Legenda Rangkayo Hitam yang Tak Bisa Ditaklukkan Raja Jawa

Legenda Rangkayo Hitam yang Tak Bisa  Ditaklukkan Raja Jawa
Rangkayo Hitam adalah anak Putri Pinang Masak seorang putri dari Pagaruyung, Sumatera Barat yang menikah dengan Datuk Paduko Berhalo. Putri Pinang Masak kembali ke tanah leluhur melayunya setelah di negerinya sudah tidak aman lagi. Ia mulai membangun Jambi dari pesisir utara, Tanjung Jabung. Karena kecantikannya, konon banyak pria jatuh hati, tak terkecuali para bangsawan dari kerajaan-kerajaan di sekitar Jambi. Namun tak satupun dari bangsawan yang mampu menaklukkan hati sang putri. Cintanya justru jatuh pada seorang keturunan Turki yang di kenal dengan Datuk Paduko Berhalo.

Kabarantau.com - Nama Rangkayo Hitam sangat melegenda di Provinsi Jambi. Sosoknya yang melegenda itu boleh-lah disejajarkan dengan nama tenar di kerajaan lain seperti Hang Tuah dari Malaka. Ia memerintah Jambi sekitar tahun 1500-1515 M. Dari keturunan Rangkayo Hitam ini selanjutnya akan menjadi raja dan sultan jambi di masa mendatang sampai Sultan Thaha Syaifuddin, sultan terakhir Kesultanan Jambi.

Rangkayo Hitam adalah anak Putri Pinang Masak seorang putri dari Pagaruyung, Sumatera Barat yang menikah dengan Datuk Paduko Berhalo. Putri Pinang Masak kembali ke tanah leluhur melayunya setelah di negerinya sudah tidak aman lagi. Ia mulai membangun Jambi dari pesisir utara, Tanjung Jabung. Karena kecantikannya, konon banyak pria jatuh hati, tak terkecuali para bangsawan dari kerajaan-kerajaan di sekitar Jambi. Namun tak satupun dari bangsawan yang mampu menaklukkan hati sang putri. Cintanya justru jatuh pada seorang keturunan Turki yang di kenal dengan Datuk Paduko Berhalo.

Datuk Paduko Berhalo konon mempunyai nama Ahmad Barus (sebagian lagi menamakan Ahmad Salim) disebut-sebut masih keturunan sultan Turki . Karena telah menikah dengan seorang keturunan minang, maka ia mendapat gelar sako , bergelar Datuk Paduko Berhalo. Barangkali nasab beliau yang dikaitkan dengan Turki tersebut lemah jika dihubungkan dengan Sultan-Sultan Turki Ottoman. Walaupun demikian, boleh jadi, Datuk Paduko Berhalo adalah keturunan Timur Tengah yang menyebarkan Islam ke Sumatra pada abad ke 15 karena diketahui pada abad itu islam sudah masuk dan mampu menjadi agama beberapa kerajaan di Nusantara seperti Samudra Pasai di Aceh atau Demak di Jawa.Islam telah masuk ke Majapahit saat kerajaan tersebut jaya, dan salah seorang penasihat raja adalah seorang ulama Aceh, namun Islam belum menjadi agama resmi kerajaan. Ulama-ulama abad 15 yang menyebarkan islam di jawa itu kita kenal dengan sembilan wali (wali songo) yang beberapa dari mereka berasal dari wilayah taklukan Turki sepertiSamarkand, Uzbekistan.

Seperti halnya beberapa wali songo yang masih keturunan Nabi Muhammad Saw, Datuk Paduko Berhalo juga diyakini mempunyai jalur nasab yang sama yang terhubung ke Nabi Muhammad Saw, dari jalur Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib r.a yang beristrikan Fatimah Az Zahra binti Muhammad Saw. Karena masih keturunan minang dari ibu, maka anak-anak Putri Pinang Masak semuanya memakai gelar rangkayo yakni:

1. Rangkayo Pingai (laki-laki)

2. Rangkayo Kedataran (laki-laki)

3. Rangkayo Hitam (laki-laki)

4. Rangkayo Gemuk (perempuan)

Dan karena masih keturunan nabi, ada pula yang berpendapat bahwa nama mereka adalah:

1. Sayyid Ibrahim (Rangkayo Pingai)

2. Sayyid Abdul Rahman (Rangkayo Kedataran)

3. Sayyid Ahmad Kamil (Rangkayo Hitam)

4. Syarifah Siti Alawiyah (Rangkayo Gemuk)

Semua saudara laki-laki Rangkayo Hitam konon pernah memimpin Jambi. Rangkayo Pingai menggantikan ayahnya Datuk Paduko Berhalo. Setelah Rangkayo Pingai pemerintahan dilanjutkan oleh Rangkayo Kedataran atau juga dikenal dengan Hulubalang Sebo. Barulah setelah Hulubalang Sebo yang memimpin Jambi Rangkayo Pingai. Namun sebagian berpendapat bahwa setelah Rangkayo Pingai langsung digantikan oleh Rangkayo Hitam.

_*Masa Muda*_

Saat Rangkayo Hitam kecil atau saat Datuk Paduko Berhalo memimpin, Jambi masih dibawah vasal Majapahit dan setelah Demak tumbuh dan menggantikan eksistensi Majapahit, Jambi tunduk kepada Demak. Sebagai bentuk kepatuhan kepada kerajaan-kerajaan Jawa, maka Jambi rutin mengirim upeti ke Jawa selama tiga tahun sekali.

Ada beberapa versi mengenai kerajaan jawa yang dimaksud, salahsatunya mataram, namun jika dilihat tahun Rangkayo Hitam dan pendahulunya memimpin Jambi, kemungkinan kerajaan yang dimaksud adalah Demak atau Majapahit. (Disini saya menggunakan Demak) Setelah Rangkayo Hitam mulai dewasa, ia amat menentang kegiatan pengirim upeti ke jawa. Ia menganggap Jambi adalah negeri berdaulat yang tak seharusnya tunduk kepada kerajaan manapun. Namun bagi pemimpin Jambi waktu itu bukan perkara mudah, melepaskan diri dari pengaruh Majapahit/Demak mengingat mereka sangat kuat, jika salah menentukan langkah maka dapat menyebabkan perang besar. Apalagi di depan mata mereka (Jambi) ada kerajaan besar pula yakni Malaka yang juga mengancam eksistensi negara. Persekutuan dengan kerajaan Jawa tentu dapat menguntungkan Jambi menghadapi ancaman Malaka. Namun tetap saja, darah muda seorang Rangkayo Hitam tetap tidak dapat menerima keputusan-keputusan pemimpin jambi saat itu.

Setiap pengiriman upeti ke Jawa, Rangkayo Hitam menyamar menjadi perampok dengan menggunakan topeng (penutup wajah) dan mengalahkan utusan-utusan kerajaan Jambi yang hendak membawa upeti ke Jawa. Belum sempat upeti dikirimkan, upeti tersebut sudah jatuh ke tangan perampok (Rangkayo Hitam). Tak satupun prajurit Jambi yang mampu melawan keahlian beladiri Rangkayo Hitam. Rangkayo Pingai yang penasaran langsung turun tangan mengawal pengiriman upeti selanjutnya. Sama seperti sebelumnya, sosok tak dikenal menggunakan topeng kembali mencegat rombongan kerajaan untuk mengambil upeti. Rangkayo Pingai yang juga terkenal sakti itu tentu tak tinggal diam, perampok yang memang telah ia incar itu langsung ia serang. Pertarungan sengit pun terjadi. Namun setelah beberapa saat berkelahi, Rangkayo Pingai merasa mengenal sosok dihadapannya dari gerakan jurus yang ia keluarkan. Benar saja, setelah pertarungan sengit itu, identitas Rangkayo Hitam terungkap. Rangkayo Hitam meminta maaf kepada kakaknya dan menjelaskan maksud pencegatan upeti selama ini.

Menurut Rangkayo Hitam, jika Demak ingin upeti, biarkan mereka sendiri yang datang ke Jambi dan tidak perlu utusan Jambi harus bersusah payah mengirimkan upeti ke Demak. Sejak saat itu, upeti tidak pernah lagi dikirim ke Demak. Karena telah sekian lama upeti dari Jambi tidak pernah sampai ke Demak, tentu Raja Demak bertanya-tanya mengapa Jambi tidak mengirimkan upeti. Ia kemudian mengirimkan utusan untuk menagih upeti ke Jambi. Sesampainya di Jambi utusan tersebut diusir oleh Rangkayo Hitam setelah terjadi pertarungan sengit. Kesaktian utusan Jawa tidak mampu menandingi kesaktian Rangkayo Hitam. Rangkayo Hitam terkenal kebal senjata dan sembarangan senjata dapat melukainya. Utusan Jawa harus pulang dengan tangan hampa dan menanggung malu.

_*Rangkayo Hitam ke Tanah Jawa*_

Raja Demak tentu marah dengan perlakuan Rangkayo Hitam kepada utusannya. Ia sendiri tidak banyak tahu tentang siapa Rangkayo Hitam, sehebat apakah ia? Tapi Raja tetap tenang dan tidak gegabah mengambil keputusan. Ia harus mempersiapkan taktik yang jitu menghadapi Rangkayo Hitam. Ia berpikir ulang pula seandainya mengerahkan pasukan besar-besaran dan mengeluarkan biaya besar untuk menghadapi satu Rangkayo Hitam. Hal ini sungguh sia-sia. Apalagi negeri Jambi nan jauh di sana jika diserang membutuhkan banyak kapal perang. Lagipula bagi Demak barangkali lebih baik mempersiapkan angkatan bersenjata merebut Malaka, yang merupakan pusat perdagangan internasional, daripada dihabiskan menyerang Jambi. Di Jawa pun masih banyak pekerajaan yang harus diselesaikan, masih banyak daerah-daerah yang belum tunduk kepada Demak. Raja kemudian meminta saran dari petinggi kerajaan tentang langkah yang diambil untuk menghadapi Rangkayo Hitam. Seorang penasehat kemudian menyarankan agar dibuatkan satu keris khusus menghadapi Rangkayo Hitam karena Rangkayo Hitam bukanlah orang sembarangan. Tubuhnya kebal atau tidak mempan ditembus sembarang senjata .Jadi jika suatu saat bertarung dengan Rangkayo Hitam ia akan dapat dikalahkan dengan keris tersebut dan tindakan itu lebih efektif. Usul tersebut diterima dan tugas pembuatan keris dipercayakan kepada seorang bernama Berjakarti (Empu Berjakarti). Oleh Empu Berjakarti dibuatkan keris terbaik dengan bahan diambil dari sembilan desa dan dari tujuh macam logam serta ditempa tiap Jum'at selama 40 purnama (3 Tahun). Kabar angin pembuatan keris ini sampai juga ke telinga Rangkayo Hitam. Ia lalu menyelidiki kebenaran berita tersebut dan pergi ke pulau Jawa, menyamar menjadi masyarakat bisa.

Sesampainya di Jawa ia menyelidiki empu-empu keris terkenal dan takdir membawanya bertemu Empu Berjakarti. Empu yang tidak mengenal Rangkayo Hitam dengan polosnya menjelaskan keris-keris yang sedang ia buat. Ia amat senang dan bangga diberi keparcayaan oleh Raja membuat satu maha karya terhebat. Keris yang ia buat tersebut telah selesai dan siap digunakan dan siap diserahkan kepada Raja untuk membunuh seorang dari kerajaan nun jauh di sana, di Negeri Jambi bernama Rangkayo Hitam. Rangkayo Hitam kemudian merebut keris tersebut dan mengamuk sehingga menghebohkan seisi Demak. Raja Demak yang tahu bahwa orang yang didepannya Rangkayo Hitam kemudian mengajak berunding. Dari perundingan itu disepakati beberapa poin-poin penting salahsatunya bahwa Jambi diakui sebagai Kerajaan Berdaulat. Keris yang ia rebut itu laludihadiahkan oleh Raja Demak kepada Rangkayo Hitam. Lalu keris itu dinamakan Si Ginjai selain keris tombak buatan Empu Berjakarti yang bernama Sinancan juga dihadiahkan kepada Rangkayo Hitam sebagai tanda persahabatan.

Setelah bersekutu, maka Jambi ikut membantu Demak menaklukkan beberapa

wilayah di negeri diantaranya Negeri Kendal, Brebes, Pemalang,

Panggungan, Kendal, Jepara, dan Patah. Prajurit Jambi yang ikut

penaklukan itu dipimpin langsung oleh Rangkayo Hitam.

Rangkayo Hitam turun tahta sekitar tahun 1515 digantikan oleh Panembahan Rantau Kapas atau dikenal juga Pangeran Hilang di Air. Selanjutnya dilanjutkan oleh anak keturunannya hingga Sultan Jambi terakhir , Sultan Thaha Syaifuddin (1904). Legenda Rangkayo Hitam amat melegenda di provinsi Jambi. Legenda ini pun diabadikan dalam lagu daerah berjudul Rangkayo Hitam.

Rangkayo Hitam gagah perkaso

Namonyo Agung dimano-mano

Sampai Mataram orang kenali

Usahkan pulo di Batang Hari

Ayah bernamo Datuk Berhalo

Turunan Turki asal Bagindo

Putri Pinang Masak namo ibunyo

Dari Pagaruyung pulo ibunyo

Rangkayo Hitam agung di mano-mano

Keris Si Ginjai senjato yang utamo

Rangkaio pingai dulur yang tuo

Yang bijaksano mimpin negeri

Kedataran namo dulur yang mudo

Hulubalang Sebo dio dikenali

Mayang mengurai istri setio

_*Penutup*_

Demikianlah legenda Rangkayo Hitam yang berkembang di provinsi Jambi dari berbagai cerita yang pernah dibaca dan didengar. Ada banyak versi yang berkembang di masyarakat dan ada banyak tafsiran sendiri-sendiri mengenai kisahnya. Barangkali cerita ini berbeda dengan versi-versi lain. Hal itu wajar. Seperti halnya di daerah lain, kisah yang dituliskan pada masa lalu banyak menggunakan kiasan dan cenderung seperti dongeng daripada fakta sejarah sampai orang-orang eropa (cina sebelumnya) datang dan mengabadikan kerajaan-kerajaan yang mereka kunjungi selama perjalanan. Tugas kitas adalah mempelajari dan menjaga warisan budaya termasuk legendaadalah keharusan karena ia merupakan bagian dari jatidiri bangsa.

Semoga bermanfaat, wassalam