Benarkah Borobudur Adalah Warisan Minangkabau ?

Benarkah Borobudur Adalah Warisan Minangkabau ?
Borobudur, sebuah candi Buddha terbesar di Dunia yang terletak di tengah pulau Jawa, berkemungkinan besar merupakan warisan suku Minangkabau yang bertapak di Sumatera Barat. Seperti yang sudah dijelaskan melalui artikel Borobudur-Adalah–Warisan-Minangkabau, candi terbesar di Dunia ini dibangun oleh suatu Kerajaan yang bernama Mataram Kuno, sementara Kerajaan ini sendiri merupakan sayap dari Kerajaan Sriwijaya yang bertapak di Sumatera Selatan. Di lain pihak, Kerajaan Srwijaya merupakan Kerajaan yang berdarah atau bersuku Minangkabau, karena pendirinya yaitu Dapunta Hyang diketahui berasal dari Minangkabau, yang di dalam Prasasti Kedukan Bukit disebut sebagai “berlepas dari Minanga”. Kata “Minanga” di sini besar kemungkinan berarti Minangkabau di jaman modern ini.

Kabarantau.com - Bermula dari berdiri dan memerintahnya Kerajaan Sriwijaya di Sumatera, tepatnya di Palembang. Dinasti atau wangsa yang menjadi operator dari Kerajaan ini adalah Dinasti Syailendra.

Raja pertama dari Kerajaan Mataram kuno bernama Banu, sementara Raja terakhir bernama Balaputradewa. Balaputradewa menjadi Raja terakhir dari Kerajaan Mataram Kuno karena di dalam internal istana terjadi konflik sehingga memaksanya untuk pulang ke kampung ibundanya di Palembang. Ini membuktikan dan menunjukkan bahwa Raja-Raja Kerajaan Mataram Kuno memang berasal dari Palembang, atau Sriwijaya.

Maka dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa Candi Borobudur merupakan Candi yang dibangun oleh orang Sumatera, karena pembangunannya sendiri diperintahkan oleh Raja-Raja yang berasal dan berakar di Sumatera, yaitu Kerajaan Sriwijaya.

Amat masuk akal untuk menyatakan bahwa Borobudur dibangun oleh Raja-Raja Sriwijaya, mengingat, Sriwijaya pada masa itu merupakan Pusat pengajaran agama Buddha terbesar di Asia Tenggara. Sementara di lain pihak, pulau dan masyarakat manusia Jawa tentulah masih amat rendah pemahamannya tentang agama Buddha. Apakah mungkin dari suatu masyarakat yang masih sangat rendah pemahamannya tentang agama Buddha, tiba-tiba dapat dan memperoleh ide untuk membangun Candi Buddha terbesar di Dunia? Dengan demikian dapat disimpullkan bahwa Raja-Raja Sriwijaya lah yang membangun Candi Borobudur.

Maka sudah terbukti bahwa Borobudur dibangun oleh orang Sumatera, di dalam hal ini Raja-Raja dari Sriwijaya.

Setelah kita mengetahui dan memahami bahwa Borobudur merupakan Candi Buddha yang dibangun oleh orang Sumatera, kemudian kita beralih untuk menyelidiki siapa sebenarnya Raja-Raja Sriwijaya tersebut. Berasal dari manakah mereka?

Dapunta Hyang.

Slamet Muljana mengaitkan Dapunta Hyang di dalam Prasasti Kedukan Bukit sebagai "Sri Jayanasa", karena menurut Prasasti Talang Tuwo yang berangka tahun 684 masehi, Maharaja Sriwijaya ketika itu adalah Sri Jayanasa. Karena jarak tahun antara kedua prasati ini hanya setahun, maka kemungkinan besar "Dapunta Hyang" di dalam Prasasti Kedukan Bukit dan "Sri Jayanasa" dalam Prasasti Talang Tuwo adalah orang yang sama.

Asal-usul Raja Jayanasa dan letak sebenarnya dari Minanga Tamwan masih diperdebatkan ahli sejarah. Karena kesamaan bunyinya, ada yang berpendapat Minanga Tamwan adalah sama dengan Minangkabau, yakni wilayah pegunungan di hulu sungai Batanghari. Sementara Soekmono berpendapat Minanga Tamwan bermakna pertemuan dua sungai (Tamwan berarti temuan), yakni sungai Kampar kanan dan sungai Kampar kiri di Riau, yakni wilayah sekitar Candi Muara Takus. Pendapat lain menduga armada yang dipimpin Jayanasa ini berasal dari luar Sumatera, yakni dari Semenanjung Malaya.

Dari http://id.wikipedia.org/wiki/Dapunta_Hyang – – 28 Mei 2013.

Sang Sapurba.

Dengan melemahnya Kerajaan Sriwijaya ini, Sang Sapurba melihat bahwa tidak ada gunanya lagi ia memerintah di Kerajaan tersebut, dan maka dari itu ia memutukan untuk pensiun alias turun takhta.

Fakta bahwa Sang Sapurba berdiam di Pariangan Sumatera Barat menunjukkan bahwa Sang Sapurba adalah orang Minangel, apalagi kalau dikaitkan dengan Raja pertama Sriwijaya yaitu Dapunta Hyang yang memang berasal dari tanah Minangkabau alias Minanga Tamvan.

Dari sini sudah dapat dibuktikan bahwa Sriwijaya merupakan Kerajaan ber-plat Minangel, karena dinasti yang menjadi operator dari Kerajaan tersebut berasal dari tanah Minangel (yaitu Dapunta Hyang), dan kembali lagi ke tanah Minangel (yaitu Sang Sapurba).

Bukti secara logika.

Untuk yakin bahwa Borobudur dibangun oleh masyarakat Minangel, bahwa Sriwijaya merupakan Kerajaan ber-plat Minangel, maka kita bisa melihat bahwa masyarakat Minangel memang merupakan masyarakat yang unggul dari jaman ke jaman. Sebut saja pada masa perjuangan dan masa kemerdekaan, banyak sekali tokoh-tokoh pergerakan Nasional yang berasal dari masyarakat Minangel ini. Muhammad Hatta, Muhammad Yamin, Muhammad Natsir, Tan Malaka, Rasuna Said, dan lain lain merupakan tokoh perjuangan yang berdarah Minangel. Begitu juga dengan tokoh lain di berbagai bidang, kebanyakan memang berasal dari suku Minangel.

Kedua.

Maka dari itu adalah dapat disangsikan kalau kita menyatakan bahwa Candi Borobudur dibangun oleh orang dari suku lain (semisal suku Jawa, atau suku Palembang, dan lain lain). Begitu juga dengan Kerajaan Sriwijaya, adalah dapat disangsikan kejayaannya kalau Kerajaan ini digerakkan oleh orang dari suku lain yang bukan suku Minangel.

Ketiga.

Maka masuk akal untuk menyatakan bahwa Candi Borobudur dan kemegahan Kerajaan Sriwijaya digerakkan oleh orang Minangel karena toh orang Minangel itu pasti sukses kalau sudah keluar dari kandang mereka: Kerajaan Sriwijaya di Palembang, dan Candi Borobudur di tanah Jawa.

Warisan-Minangkabau, candi terbesar di Dunia ini dibangun oleh suatu Kerajaan yang bernama Mataram Kuno, sementara Kerajaan ini sendiri merupakan sayap dari Kerajaan Sriwijaya yang bertapak di Sumatera Selatan. Di lain pihak, Kerajaan Srwijaya merupakan Kerajaan yang berdarah atau bersuku Minangkabau, karena pendirinya yaitu Dapunta Hyang diketahui berasal dari Minangkabau, yang di dalam Prasasti Kedukan Bukit disebut sebagai "berlepas dari Minanga". Kata "Minanga" di sini besar kemungkinan berarti Minangkabau di jaman modern ini.

Terdapat bukti lain yang menguatkan pandangan bahwa Borobudur merupakan warisan suku Minangkabau, dan bukti tersebut terdapat pada Borobudur sendiri.

boro-minangel01Gambar 01.

boro-minangel02Gambar 02.

boro-minangel03Gambar 03.

Kesimpulannya adalah, tidak ada satu pun bukti lain yang dapat meragukan atau mementahkan pandangan bahwa terdapat hubungan antara keagungan Borobudur dengan kearifan suku Minangkabau di abad kedelapan masehi. Dan bagi masyarakat Minangkabau sendiri, hal ini akan menjadi suatu tantangan untuk menjadi lebih baik lagi bagi bangsa Indonesia.

minangkabau borobudur" – dengan result di bawah judul "Borobudur: Golden Tales of the Buddhas – Google Books".