Apakah Anda Tahu : 7 Fakta Curhatan Anak Minang Di Perantauan

Apakah Anda Tahu : 7 Fakta Curhatan Anak Minang Di Perantauan
Fenomena masyarakat Minang yang suka berbisnis, membuat mereka tersebar luas dan diterima semua lapisan masyarakat.

Kabarantau.com - Orang Padang atau Minang ada di seluruh penjuru pelosok negeri. Pameo itu benar. Fenomena masyarakat Minang yang suka berbisnis, membuat mereka tersebar luas dan diterima semua lapisan masyarakat. Tak heran dengan kondisi itu, muncul beberapa anggapan soal gaya dan karakter orang Minang. Berikut 7 anggapan umum masyarakat Indonesia terhadap orang Minang atau Padang.

1. Selalu disebut sebagai orang Padang.

Orang asal Sumatera Barat yang tinggal di rantau sering disebut orang lain dengan panggilan orang Padang. Bukan orang Minang. Hal itu karena banyak orang yang hanya paham bahwa Padang identik dengan rumah makan/restoran. Jadi wajar jika sanak (orang minang) di perantauan yang asalnya dari Payakumbuah, Bukiktinggi, Solok,Solok Selatan, Pariaman, dan lain lain, selalu dipanggil dengan orang Padang.

2. Pandai Dagang.

Seringkali orang Padang dianggap sebagai figur yang pandai berdagang. Dalam kultur masyarakatnya, orang minang memang dilahirkan sebagai warga negara yang pandai manggaleh (berdagang). Tak heran jika muncul anekdot bahwa Padang diartikan sebagai pandai berdagang.

3. Bajodohkan (Dijodohkan)

Muncul fenomena di masyarakat, di mana pun tempatnya, orang minang sering berjodoh dengan sesama minang. Hal itu sangat mungkin terjadi karena ada tradisi yang menjodohkan antarwarga minang, terutama di perantauan. Itu pula yang tergambarkan di film legendaris Indonesia, Siti Nurbaya.

4.Laki-Laki Padang (Minang) dibeli

Saat menikah, laki-laki Padang (Minang) bisa ‘dibeli.’ Artinya pihak perempuan harus memberikan dana ekstra ke keluarga laki-laki. Anggapan itu benar, tapi tidak mutlak. Patut diketahui, kebiasaan itu hanya berlaku pada orang minang yang berasal dari kawasan Pariaman. Sekadar informasi, di adat Pariaman ada pemahaman pihak perempuan membeli pihak laki-laki. Di luar daerah tersebut, misalnya Payakumbuah, Bukiktinggi dan daerah lain, tradisi itu tak berlaku.

5. Pelit dan Perhitungan

Ketika bersua dengan warga Padang, seringkali yang ada di benak sebagian besar orang adalah sosok yang pelit dan perhitungan. Jika dicermati, tak semuanya anggapan itu benar. Hal itu dikarenakan, tidak semua ‘marga’ Padang berprofesi sebagai pedagang (yang dianggap perhitungan, Red). Masih banyak yang berprofesi sebagai wartawan, politikus, militer, dan lain-lain.

6. Sakampuang (Sekampung)

Dari mana pun asalnya, saat bersua di perantauan, warga Padang langsung akrab. Pemandangan itu langsung memunculkan anggapan bahwa mereka berasal dari kampung yang sama atau sakampuang. Padahal, sejatinya keakraban itu muncul karena perasaan atau pemahaman yang seperti keluarga sendiri atau badunsanak.

7. Penampilan Necis

Orang Padang di perantauan kerap tampil necis dan ber-merk. Itu benar, bos! Ada kegemaran yang tak tertulis bahwa dalam membeli pakaian, orang Padang punya prinsip yang unik. Yakni "Biarlah membeli pakaian setahun sekali yang penting tahan lama dan berkualitas."