Wajib Tahu : 7 Pemuda Minang Sukses Di Luar Negeri

Wajib Tahu : 7 Pemuda Minang Sukses Di Luar Negeri

Kabarantau.com - Orang minang sudah lama dikenal berani berpetualang. Baik untuk berdagang, mencari ilmu, atau mengcari penghidupan lewat berbagai kreativitas. Beberapa nama mencapai keberhasilan. Ada yang biasa saja, tapi ada pula yang sampai dikenal luas.

Berikut 7 pemuda Minang yang sukses berkarya di negeri orang :

1. Ricky Elson 

Ricky Elson adalah putra Minang kelahiran tahun 1980. Ia menempuh pendidikan tinggi pada bidang teknologi di Jepang. Menetap selama 14 tahun di Jepang memberikan banyak pengetahuan Ricky.

Selama menuntut ilmu hingga bekerja di Jepang, setidaknya sudah 14 penemuan Ricky di bidang teori motor listrik yang dipatenkan. Perusahaan Jepang sangat bangga pada pencapaian Ricky. Kariernya di Jepang kian cemerlang. Ia sudah menduduki posisi tinggi serta mendapat beragam fasilitas.

Ahli di bidang listrik dan angin ini memang memiliki bakat luar biasa. Tak mengherankan bila bakatnya membuat Dahlan Iskan yang kala itu menjabat sebagai Menteri BUMN, memintanya untuk kembali ke Indonesia dan mengembangkan mobil listrik di negeri sendiri. 

2. Rully Prasetya

Anak muda kelahiran Solok, 2 Februari 1990 itu sudah terbiasa hidup mandiri sejak di bangku Madrasah Tsanawiyah I Padangpanjang (setingkat SMP). Di sana dia menyelesaikan pendidikan hingga lulus dari SMA 1 Padangpanjang. Kampus Universitas Indonesia (UI) kemudian menjadi almamater tempatnya menempuh pendidikan sarjana akuntansi.

Di usianya yang baru akan menginjak 24 tahun, Rully Prasetya bersiap menempuh pendidikan doktoral di University College London (UCL). Saat ini, Rully telah menggenggam dua gelar master dari UCL dan National University of Singapore (NUS). Kepada generasi emas seperti Rully inilah negara melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) memberi beasiswa.

Ia dulu ikut program pertukaran pelajar selama satu semester di University of Utah (AS) dengan beasiswa Fullbright. Setelah kembali ke Indonesia, Rully mendapatkan beasiswa dari NUS untuk menyelesaikan program magister dual degree di Public Policy Programme The Lee Kuan Yew School of Public Policy, NUS, Singapura dan Graduate School of Public Policy, The University of Tokyo, Jepang.

Tak tanggung-tanggung, Rully menambah gelar MSc dari University of College London, dengan beasiswa dari LPDP. Lulus dengan sangat memuaskan (distinction), Rully langsung diterima di program doktor ilmu ekonomi UCL.

3. Syamsir Alam

Syamsir Alam adalah pesepakbola Indonesia yang lahir di Agam, Sumatera Barat, 6 Juli 1992. Ia merupakan sulung dari empat bersaudara. Meski dikenal sebagai pesepakbola Indonesia, Syamsir melakoni sebagian besar karirnya di luar negeri. Ia tergabung dalam sebuah proses pelatihan intensif oleh PSSI di Uruguay, SAD. Empat tahun di negara tersebut, ia kemudain membela klub setempat, Atletico Penarol (2010).

Setahun dengan Penarol, Syamsir bermain untuk klub luar negeri lainnya, CS Vise. Dengan nomor punggung 77 (2011/2012). Selepas dari CS Vise, Syamsir memilih DC United (AS) untuk berlaga di Major League Soccer sejak 24 Januari 2013. Kariernya di Indonesia tak selalu mulus. Ia sempat ditolak Rahmad Darmawan di timnas SEA Games 2011. Hal itu kembali terulang di 2013. RD kembali mencoret Syamsir di ajang serupa.

4. Wempy Dyocta Koto

Hampir sebagian hidupnya dihabiskan di negeri orang. Belasan tahun memiliki karier sukses di perusahaan-perusahaan komunikasi internasional di banyak negara, Wempy Dyoca Koto akrab dengan sejumlah brand ternama seperti Samsung, Microsoft, Adidas, hingga Sony. Karena cinta pada Tanah Air, ia kini ganti membantu merek-merek lokal untuk go international.

Karena tuntutan pekerjaan, Wempy pun kerap melanglang buana ke banyak negara. Di salah satu perusahaan advertising terbesar di dunia, WPP Group, jabatan yang diembannya cukup bergengsi: Regional Account Director (2006). Saat itu dia menetap di London, Inggris. Dia bertanggung jawab untuk wilayah Eropa, Timur Tengah, dan Afrika. Dia meraih puncak karirnya saat menjabat Global Business Director.

Perusahaannya sudah menangani klien-klien yang masuk dalam Fortune 1000 yang tersebar di Inggris, Timur Tengah, Australia, Eropa, dan Amerika. Ia membawahi sekitar 20 perusahaan yang beroperasi di seluruh dunia.

5. Muhammad Daffa Imran

Pemuda kelahiran 18 Agustus 1999 itu tinggal di Tambun Selatan, Bekasi. Putra pasangan Zuchli Imran Putra dan Nurhaidah ini sempat membela timnas Indonesia U-13 pada ajang Yamaha Cup 2011 di Thailand (runner-up). Bersama ISA di ajang Kanga Cup Australia timnya jadi runner-up lagi. Dia juga ikut memperkuat tim asal Indonesia untuk ajang final dunia Danone Cup 2011 di Stadion Santiago Bernabeu, Madrid.

Daffa sempat terpilih dalam ajang pencarian bakat Club de Meteor Amsterdam (Belanda) pada 2013. Pada 2014 setelah membela ISA pada sebuah turnamen di Spanyol, Daffa menimba ilmu di tim Real Madrid Foundation kategori remaja dan sempat jadi kapten tim. Lelali yang sudah menguasai lima bahasa asing ini tetap ingin jadi pemain pro, dan ingin memperkuat timnas Indonesia. "Itu cita-cita saya," tegasnya.

6. Perdana Putra Minang

Perdana Putra Minang (lahir di Jakarta, 23 Maret 2001) adalah seorang atlet balap gokart Indonesia. Perdana telah menorehkan prestasi yang mengagumkan di usia yang masih sangat muda. Ia dianggap salah satu pembalap muda Indonesia yang sangat potensial. Mulai tertarik dengan dunia balap semenjak berusia tujuh tahun (2008). Gelar juara kelas pemula ia raih di berbagai arena seri balap gokart nasional.

Sejak tahun 2009, Perdana mulai berkiprah di arena balap gokart regional dan internasional, seperti di Thailand, China, Malaysia dan Italia. pada 2012 ia menjadi juara II "Copa Trofeo Griffone", Sarno International Karting Circuit, Napoli, Italia. Tahun 2014, bergabung bersama tim Red White Racing.

7. Ilham Nirwan

Ilham menempuh pendidikan di bidang Desain Produk di Institut Teknologi Bandung (ITB), sebelum melanjutkan sekolahnya ke Jerman. Setelah menamatkan kuliah dan meraih gelar Master (S2) Digital Media di Hochschule Bremerhaven, Jerman, ia ingin bekerja sebagai desainer mobil, namun gagal.

Dengan bekal ilmu Desain Produk dari ITB serta kegemarannya terhadap berbagai jenis sepatu, akhirnya Ilham berbisnis sepatu. Bermodal Rp 250 juta, pria berdarah Minang ini mulai memproduksi sekitar 820 pasang sepatu. Pada awalnya, Ilham memasarkan sepatu ke Jerman dengan merek dagang Rangkayo dan Marapulai. Distribusi pun meluas sampai ke Brazil, Timur Tengah, dan Afrika.

Sumber