Tahukah Anda : Orang Minang Tidak Boleh Menikah Satu Suku, Mengapa?

Tahukah Anda : Orang Minang Tidak Boleh Menikah Satu Suku, Mengapa?
Selagi mereka dalam adat Minang, sesuku (pisang, chaniago, koto, sikumbang, piliang), maka akan sulit melangsungkan sebuah pernikahan.

Kabarantau.com - Beberapa suku percaya jika menikah dengan pasangan yang berasal dari suku yang sama, maka pernikahan tersebut malah akan membawa malapetaka. Tidak hanya suku di Sumatera Utara, ternyata pernikahan satu suku (klan) di Minangkabau juga dilarang dan menjadi hal tabu.

Jika masih dilakukan, perkawinan sesuku ini tidak direstui oleh lingkungan keluarga dan ruang lingkup masyarakat tempat mereka tinggal. Intinya, selagi mereka dalam adat Minang satu suku (pisang, chaniago, koto, sikumbang, piliang, dan lainnya), maka akan sulit melangsungkan sebuah pernikahan.

Perpisahan dan pembatalan seakan telah menjadi sebuah hal lazim jika yang hendak menikah adalah seseorang yang diketahui sama-sama berasal dari satu suku. Meskipun sudah berkenalan cukup lama dan ada rencana untuk menikah, namun itu tidak bisa menjadi bahan pertimbangan untuk melegalkan perkawinan tersebut.

Menikah dengan satu suku menurut logika hukum Minangkabau tidak baik. Sanksinya jika dilanggar adalah sanksi moral, seperti dikucilkan dari pergaulan. Bukan saja pribadi orang yang mengerjakannya, tetapi keluarga besar pun sampai mendapat sanksinya.

Bahkan ada mitos di Minangkabau yang sudah diyakini turun temurun, bahwa menikah sesuku akan membawa malapetaka dalam rumah tangga. Nah berikut ini alasan mengapa masyarakat Minangkabau melarang keras pernikahan ini, yang dilansir dari Saribundo, Kamis 19 Januari 2017.

- Keturunan Tidak Berkualitas

Ilmu kedokteran mengatakan keturunan yang berkualitas apabila si keturunan yang dihasilkan dari orang tua yang tidak mempunyai hubungan darah sama sekali. Adapun keturunan yang terlahir dari hubungan sedarah akan mengalami DNA yang tidak sempurna.

- Mengganggu Psikologis Anak

Anak-anak hasil dari perkawinan sesuku tidak memiliki suku/kampuang di kenegerian Lipat kain dan tidak memiliki hak-hak secara adat. Kemudian anak tersebut disamakan statusnya dengan anak hasil perzinahan/anak luar nikah atau dalam bahasa kampungnya 'Anak Gampang'.

- Kehilangan Hak Secara Adat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan perkawinan satu suku berdampak pada rusaknya tatanan adat yang sudah berlaku sejak lama. Pemberian sanksi bagi pelaku dan keluarga baik moril maupun materiil, serta hilangnya hak terhadap harta pusaka dan kaburnya sistem kekerabatan matrilineal dan cenderung mengarah ke sistem parental.

- Kerugian Materi
Denda secara adat/diberi utang satu ekor kerbau, dimana keluarga pelaku kawin satu suku didenda satu ekor kerbau dan mereka harus memasaknya sendiri. Setelah selesai dimasak maka dipanggil seluruh warga untuk menikmati hidangan, hal ini dilakukan untuk memberikan sanksi kepada keluarga besar pelaku kawin sesama suku.


- Mempersempit Pergaulan
Pengucilan secara adat yang disebut dengan kiasan 'dilotakan di Bukik nan tak baagin, dilugha nan tak basaghok'. Dalam adat-istiadat di Rantau Kampar Kiri kemenakan yang melakukan kawin sesuku, dianggap seperti binatang yang tidak punya malu, kiasannya 'Laksana buah baluluk, tacampak ka aie indak dimakan ikan, tacampak kadaek indak diicatuk ayam'.


Bentuk nyatanya pengucilan ini adalah seperti, apabila keluarga yang melakukan kawin sesuku melakukan pesta maka masyarakat adat tidak akan menghadirinya (Uma indak ditingkek, nasi indak dimakan, aie indak diminum).


- Pelopor Kerusakan dalam Kaum
Mereka yang kawin sesuku diyakin sebagai pelopor kerusakan hubungan dalam kaumnya (kalangan satu suku). Ketika pernikahan sesuku terjadi, konflik besar akan mudah terjadi. Ibaratkan sebuah negara, akan lebih mudah hancur apabila terjadi perselisihan sesama rakyatnya daripada perselisihan sesama dengan negara lain.


Ketika suami istri bertengkar lalu saling mengadu ke orangtua masing-masing, maka kedua orangtua mereka juga mengadu ke saudara-saudaranya, ke mamak, ke datuk. Akhirnya terjadilah banyak pertengkaran, padahal mereka badunsanak dan sesuku. Akhirnya suku hancur gara-gara perkawinan ini.


- Dirundung Pertengkaran dan Perseteruan
Bagi yang melakukan kawin satu suku, secara sosiologis berpengaruh terhadap kepribadian anak. Anak hasil perkawinan satu suku akan berakhlak buruk dan juga berdampak pada pasangan itu sendiri, rumah tangganya tidak harmonis, sering terjadi pertengkaran dan perseteruan dalam keluarga itu.


Sedangkan dikaji secara antropologi, kawin satu suku dapat menyebabkan kesenjangan salah satu unsur kebudayaan atau penyimpangan unsur kebudayaan. Salah satu unsur kebudayaan tersebut adalah adat. Karena itu kawin sesuku merupakan penyimpangan adat. (dwq)