Jejak Purba Minangkabau. Harta Karun Nusantara

Jejak Purba Minangkabau. Harta Karun Nusantara
By : Asro Suardi (Asro Sikumbang Minangkabau) Catatan Perjalanan dan Pengalaman menelusuri/menggali Kekayaan Minangkabau dan Nusantara

Kabarantau.com - Secara tradisi wilayah – wilayah yang berada dibawah pengaruh Minangkabau disebut dengan Alam Minangkabau. Oleh karena itu Alam Minangkabau terdiri dari kesatuan geografis, politik, ekonomi dan kebudayaan yang lazim disebut dengan wilayah Darek, Pesisir dan Rantau. Faktor yang melatarbelakangi besarnya wilayah Alam Minangkabau dan tersebarnya penduduk Minangkabau adalah kebiasaan merantau, politik (diplomasi) dan ekonomi. Wilayah darek merupakan wilayah inti gabungan dari tiga wilayah luak (luhak)yang disebut luhak nan tigo.

Luhak adalah merupakan daerah awal bermukim / tanah asa (tanah asal) masyarakat Minangkabau. Juga merupakan wilayah awal perkembangan peradaban adat dan kebudayaan Minangkabau. Luhak tersebut adalah Luhak Tanah Datar, Luhak Agam, dan Luhak Limo Puluah Koto. Wilayah Pesisir adalah daerah rendah yang terletak di sebelah barat bukit barisan dan sempadan dengan Samudera Hindia. Sedangkan wilayah rantau dalam konsep budaya Minangkabau adalah wilayah yang berada diluar wilayah darek/luhak. Daerah rantau merupakan daerah perluasan/daerah baru wilayah di Minangkabau. Wilayah pesisir termasuk dalam wilayah rantau di Minangkabau Batas – batas alam Minangkabau, dapat diketahui dalam peninggalan yang tertulis dalam Ungkapan adat dan Tambo.

Dalam sejarahnya wilayah yang termasuk kedalam alam Minangkabau meliputi Sumatera Barat kecuali Mentawai, Separuh Daratan Riau, bagian utara Bengkulu, Bagian barat Jambi, pantai Barat Sumatera Utara, barat daya Aceh dan Negeri Sembilan Malaysia. Selain itu berdasarkan perkembangan sejarah diidentifikasi keturunan – keturunan masyarakat Minangkabau juga terdapat di salah satu suku Dayak (Kalimantan), beberapa kelompok keluarga di Manggarai (Nusa Tenggara), Kendari (Sulawesi Tengah), Makassar (Sulawesi Selatan), Kepulauan Sulu, Mindanao (Filipina), Brunei, Kuching dan Sarawak (Malaysia) dan Pattani (Thailand). Berbicara tentang Minangkabau dengan bukti peninggalan sejarah, Minangkabau melewati periode dari zaman pra sejarah, zaman peradaban,zaman kerajaan – kerajaan,zaman penjajahan, dan zaman kemerdekaan. Akan tetapi yang menjadi pembahasan kita adalah tentang peninggalan zaman pra sejarah yang dibuktikan dengan adanya peninggalan Megalitikum (Zaman Batu Besar). Dalam pembahasan sejarah, Minangkabau lebih banyak dikenal dalam pembahasan zaman peradaban (masa – masa kebudayaan berkembang) hingga masa kemerdekaan.

Namun mari kita mengenal dan mencoba untuk mencari tahu bahwa Minangkabau / Sumatera Barat pernah melewati masa pra sejarah yang saat ini meninggalkan bukti peninggalan sejarah yang menjadi kekayaan salah satu sejarah dan wisata bagi Sumatera Barat Khususnya dan Indonesia umumnya. Peninggalan Megalithikum Minangkabau yang ditemukan terdapat di Luhak Limo Puluah Koto. Dalam tambo Alam Minangkabau, Luak Limo Puluah Koto merupakan daerah paling terakhir yang menjadi daerah inti di Minangkabau, oleh karena itu dikenal dengan Luak Nan Bungsu. Yang termasuk dengan wilayah Luak Limo Puluah Koto saat ini adalah Kabupaten Lima Puluh Kota dan Kotamadya Payakumbuh.

Banyak yang belum mengetahui bahwa Minangkabau pernah melewati masa pra sejarah yang saat ini menjadi asset bagi masyarakat Minangkabau dan Sumatera Barat serta Indonesia. Berdasarkan pengalaman perjalanan dan bacaan saya ingin memperkenalkan dan menginformasikan tentang peninggalan prasejarah di Minangkabau yang akan berguna untuk informasi pengetahuan, pelestarian dan potensi wisata.

Perjalanan pertama saya dalam menelusuri jejak pra sejarah Minangkabau di Luhak Limo Puluah Koto adalah ketika saya berkunjung ke kompleks peninggalan Menhir Balubuih yang berada di Jorong2 Balubuih, Nagari3Sungai Talang, Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Hal yang saya temui dalam perjalanan pertama menelusuri jejak pra sejarah ini adalah 16 menhir yang biasa disebut masyarakat dengan batu tagak. Bentuk menhir yang terdapat dalam kompleks menhir Balubuih yang sudah dipelihara dengan baik oleh kantor Badan Purbakala dan Cagar Budaya Batusangkar ini adalah menhir yang belum dikerjakan dan sudah dikerjakan. Menhir yang terdapat dalam kompleks ini yang berbentuk menyerupai bentuk lekungan pakis dan beberapa menhir sudah memiliki memiliki pola ukir yang rapi. Dikompleks ini juga terdapat sebuah museum yang bertujuan sebagai informasi tentang menhir. Menhir Balubuih diperkirakan berumur 1000 – 3000 SM hal ini dibuktikan dengan pernah ditemukannya kerangka di salah satu menhir.

Perjalanan kedua saya adalah untuk melepaskan rasa semakin penasaran akan peninggalan peradaban nenek moyang pada zaman megalithikum atau zaman batu besar. Nagari Mahek itu terletak di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. 5 jam lamanya, berkendara dari Bandara Internasional Minangkabau menjadi tujuan saya yang kedua. Nagari Mahek merupakan salah satu nagari yang terdapat di Kabupaten Lima Puluh Kota, tepatnya berada di Kecamatan Bukit Barisan. Nagari ini berada di lembah Bukit Barisan dengan luas 122,06 km persegi. Untuk menempuh nagari ini kita harus melalui jalan lembah dengan keadaan jalan yang mendaki dan menurun.

Topografis Nagari Mahek dikelilingi dengan gugusan bukit barisan yang masih asri, tetapi di tetapi di daerah ini juga terdapat tipe bukit batu. Salah satu bukit di Mahek juga memiliki keunikan, yaitu sebuah bukit batu yang tembus. Bukit ini disebut dengan "Bukik Batu Posuak". Sepanjang perjalanan menuju Nagari Mahek dapat kita lihat jenis tumbuhan kayu keras dan Tumbuhan endemic yang terdapat di disekitaran Bukit Barisan menuju nagari Mahek adalah Paku besar dan tanaman lunak kantong semar yang menggantung indah di sisi – sisi perbukitan di tepi jalan. Berbicara tentang Mahek, tidak banyak orang mengetahui tentang Nagari ini, Mungkin hanya dikalangan peneliti ataupun orang-orang tertentu.Mahek sebuah nagari yang jauh terletak di Lembah Bukit Barisan, menyimpan sebuah warisan nenek moyang akan masa lalu. Hampir di seluruh wilayah Kabupaten Lima Puluh Kota terdapat penyebaran peninggalan megalithikum, tetapi tidak banyak orang mengetahui jika Nagari Mahek menyimpan warisan masa lalu tersebut dalam jumlah yang banyak.

Menhir merupakan sebuah symbol peringatan untuk memuja leluhur, dengan posisi batu berdiri. Di Nagari Mahek menhir yang sudah dapat dilihat dan dilindungi oleh Dinas Purbakala berada di 4 titik. Yaitu menhir Balai Batu, bawah parit, Menhir Ampang Gadang dan Menhir Ronah. Menhir yang saya kunjungi pertama kali adalah menhir balai batu, disini yang saya temui peninggalan nenek moyang akan hasil budaya megalith adalahnya banyaknya batu – batu besar yang sudah memiliki motif ukiran dan symbol. Simbol yang jelas tampak salah satunya adalah symbol garis geometris, motifl berbentuk sulur tanaman paku dan juga terdapat simbol timbul, kalau diperhatikan dengan seksama menyerupai kelamin laki –laki.

Kemudian menhir–menhir lain yang saya perhatikan yang masih berada dalam kawasan menhir balai batu adalah menhir yang bentuknya sudah berbentuk. Selain itu terdapat sebuah peninggalan megalith yaitu berupa susunan batu yang menyerupai panggung. Konon kabarnya inilah yang disebut balai (ruang) tempat mengutus 4 Datuak untuk pergi ke daerah lain. Perjalanan kedua kemudian kami lanjutkan ke situs prasejarah Bawah Parit. Pada situs ini jumlah menhir yang terdapat lebih banyak daripada situs batu balai. Di situs bawah parit ukuran menhir juga sudah mulai lebih besar, dan kemungkinan inilah peti batu. Selain itu pada situs ini motif ukiran yang terdapat pada batu juga sedikit berbeda. Jika sebelumnya pada situs balai batu terdapat ukiran menyerupai bidang persegi dan menyerupai sulur tanaman paku.

Situs megalith Bawah Parit sudah meninggalkan ukiran motif yang lebih tertata dan berbentuk motif pada Rumah Gadang saat ini. Seperti pucuak rabuang dan kaluak paku dengan geometris yang mulai rumit. Perjalanan ketiga saya adalah ke peninggalan megalith Ampang Gadang, menurut cerita menhir yang terdapat didaerah ini berjumlah 300 buah. Tetapi dengan adanya pembangunan lapangan sepak bola, menhir ini ditimbun oleh penduduk dan hanya tersisa beberapa saja. Peninggalan ini kemungkinan belum diekskavasi oleh dinas terkait, karena yang dapat kami lihat tidak ada plang sebagai penanda daerah konservasi.

Menurut sebuah sumber berita menyebutkan menhir di Nagari Mahek hanya baru 20 persen yang tergali, 80 persen belum tergali, Hal ini berarti menandakan menhir di Mahek masih banyak tersebar. Fakta ini juga kami temui di lapangan, ketika menikmati seteguk kopi menanti hujan turun. Warga menyebutkan bahwa masih banyak menhir yang belum diketahui. Hanya diketahui oleh warga sekitar dimana menhir itu berada didaerah mereka. Hal yang disayangkan mengenai peninggalan purbakala ini adalah kurangnya promosi oleh dinas terkait kepada warga umum. Dengan adanya menhir di Provinsi Sumatera Barat yang dominan penduduknya adalah bersuku Minangkabau. Menunjukkan bahwa di Minangkabau pada masa sebelum terjadinya peradaban kebudayaan dan adat yang berkembang pesat, juga terdapat peradaban prasejarah. Selain itu, entah bagaimana tipikal penduduk setempat.

Ketika dalam perjalanan saya dan tim bertemu dengan generasi muda di lokasi tersebut. Apa dan bagaimana menhir di daerah mereka, mereka tidak mengetahui. Hanya beranggapan itu sebuah menhir saja tanpa tahu bahwa peninggalan megalith yang terdapat didaerah mereka mengandung rahasia sejarah yang besar. Untuk trip perjalanan ke Mahek, dimana kami sudah mencoba merasakan bagaimana perjalanan menelusuri sisi Bukit Barisan. Ada beberapa tips yang dapat kami berikan, untuk menempuh Mahek dari pusat Kabupaten Lima Puluh Kota atau Kota Payakumbuh membutuhkan waktu 2 jam perjalanan. Topografis daerah menuju mahek adalah perbukitan. Dengan jalanan yang berliku dan satu sisi merupakan ngarai. Jadi kita patutr berhati – hati ditambah kondisi jalan yang rusak dan jarangnya pemukiman penduduk. Jika ingin mengetahui lebih banyak tentang nagari Mahek dan peninggalan megalithikumya disarankan untuk bermalam. Pemakaian sarana telekomunikasi didaerah ini lebih baik menggunakan operator yang telah mencakup jaringan hingga daerah dengan topografis yang sulit.

Kendaraan yang lebih baik digunakan menuju nagari Mahek yang lebih efektif adalah kendaraan roda dua. Hal ini diperhitungkan agar lebih mudah, mengingat kondisi jalan yang tidak baik. Kemudian perjalanan ketiga saya pada februari 2015 dalam penelusuran jejak pra sejarah di Minangkabau adalah menelusuri peninggalan megalithikum yang masih terdapat di kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. Sebaran Menhir di Kabupaten Lima Puluh Kota dan Kota Payakumbuh terdapat di Kecamatan Bukit Barisan, Kecamatan Gunuang Omeh, Kecamatan Suliki, Kecamatan Guguak, Kecamatan Payakumbuh, Kecamatan Akabiluru, Kecamatan Harau, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kecamatan Lareh Sago Halaban, Kecamatan Pangkalan, Kecamatan Kapur IX. Hanya 2 daerah di Luhak Limo Puluah Koto yang tidak ditemui peninggalan megalithikum. Situs Megalithikum di Nagari Maek merupakan daerah terbesar yang memiliki menhir sehingga dikenal dengan "Nagari Seribu Menhir".

Keunikan menhir yang terdapat di Luak Limo Puluah Koto adalah Gunung Sago merupakan gunung yang berada di Kabupaten Lima Puluh Kota. Bagaimana ini bisa terjadi, hubungan anatara menhir di Mahek dengan Gunung Sago. Kemungkinan besar adalah Gunung Sago dipercaya dahulu sebagai tempat berkumpul nenek moyang pada zaman ini berkembang. Peninggalan megalith di Luhak Limo Puluah Koto tidak hanya berupa menhir saja, akan tetapi juga peninggaan megalith lainnya. Peninggalan megalithikum di Luhak Limo Puluah Koto diperkirakan berusia 3000 – 4000 tahun Sebelum Masehi dan Sezaman dengan peninggalan megalith di Irlandia, Inggris (Stonghene) dan Perancis. Selain itu beberapa pola ukiran menhir yang ditemukan di Luak Limo Puluah Koto menjadi bentuk pola ukiran masyarakat Minangkabau yaitu pola ukiran spiral tunas paku yang saat ini dikenal dengan ukiran "Kaluak Paku" dan tunas bambu yang dikenal dengan ukiran "Pucuak Rabuan".

Secara empiris, menurut tambo wilayah Tanah Datar merupakan luhak yang pertama. Namun dengan perkembangan penggalian sejarah berdasarkan bukti arkeologis beberapa unsure – unsur kebudayaan Minangkabau telah disusun di Luak Limo Puluah Koto mulai semenjak masa pra sejarah. Keunikan lain yang dimiliki oleh Luak Limo Puluah Koto adalah daerah ini melewati hampir semua periode perjalanan Minangkabau. Yaitu dengan dibuktikan adanya peninggalan – peninggalan sejarah. Periode yang dilewati Luhak Limo Puluah Koto adalah Zaman Batu, Zaman Peradaban (dalam Tambo), Zaman Paderi, Zaman Belanda, Zaman Jepang dan Zaman Kemerdekaan. Yang bukti peninggalan tersebut akan menjadi informasi pengetahuan dan potensi daerah. Peninggalan megalithikum di Nagari Mahek Khususnya dan daerah lain di Kabupaten Lima Puluh Kota yang semuanya hampir tersebar peninggalan purba ini. Jika dikelola dengan baik akan memberikan dampak yang baik. Dari sisi perjalanan sejarah, akan diketahui bagaimana perjalanan dan perkembangan manusia pada zaman prasejarah di Minangkabau. Dari sisi pariwisata, menhir yang terdapat di Kabupaten Lima Puluh Kota dapat dijadikan sebuah perjalanan wisata sejarah dengan konsep perjalan prasejarah. Sehingga ke depannya peninggalan ini akan terjaga dengan baik dan menjadi perhatian. Dimana pada kondisi saat ini peninggalan megalithikum yang bernilai sejarah berupa batu jika tidak diketahui masyarakat akan hilang nantinya. Sebuah warisan yang besar bagi bumi Minangkabau (Sumatera Barat) terdapat warisan masa purba yang masih belum banyak digali dan diketahui masyarakat umum. Yang menambah khasanah peninggalan Pra – Sejarah di Indonesia. (ASM)