Ady Rosa sang Jendral Tato Asli Minangkabau

Ady Rosa sang Jendral Tato Asli Minangkabau
Ady dikenal sebagai satu-satunya akademisi yang memerhatikan seni tato dengan cara meneliti kumpulan seni tato tradisional nusantara.

Kabarantau. com - Ady Rosa adalah putra asli Minangkabau yang lahir pada 23 Juli 1952 yang dikenal sebagai Jendral Tato oleh masyarakan Indonesia dan dunia. Ady dikenal sebagai satu-satunya akademisi yang memerhatikan seni tato dengan cara meneliti kumpulan seni tato tradisional nusantara.

Beliau adalah mantan staf pengajar seni rupa Universitas Padang yang memperjuangkan tato dimasa tato sebagai rumpun seni rupa tradisional di indonesia telah terancam punah dan terabaikan dalam kajian-kajian seni dan keilmuan.

Sang Jendral mulai meneliti tato khas di pedalaman kepulauan Mentawai sejak tahun 1992 dan berhasil mendata bahwa 24.566 jiwa dare 5.254 kepala keluarga pada saat itu telah mentato tubuh mereka, penelitian dan pendataan ini sendiri dilakukan di Pedalaman Pulau Siberut pada suku asli Mentawai yang diantara sekian banyak orang terdapat 200 orang berumur diatas 50 tahun. Data ini mendukung penelitiannya bahwa tato tradisional nusantara mendekati kepunahan.

Simbol-simbol dari struktur kemasyarakatan, kepercayaan, ekonomi, dan kesehatan tertanam kedalam 160 motif tato tradisional Mentawai. Hasil penelitian beliau tersebut dirangkum dalam tesis pasca sarjana ITB pada tahun 1994 yang membuat namanya melambung di dunia seni rupa karena pemberian gelar Jendral Tato oleh Prof. Dr. Primadi Tabrani dan Prof. AD. Pirous. Gelar itu melekat hinga akhir hayarnya di RS Sudarso, Padang pada 16 Agustus 2014.

Pada tahun 2001, Beliau menandatangani kontrak dengan LIPI untuk meneliti tato tradisional suku Dayak selama tiga tahun dengan omset mencapai 220 juta rupiah. Namun keinginan terakhirnya yang belum terwujud adalah penelitian terhadap tato Sumba untuk melengkapi kajiannya tentang tato tradisional nusantara.

Walaupun kehidupannya dekat dengan dunia tato, orang yang akan dianugerahi gelar Doctor dare Universiti Kebangsaan Malaysia ini tidak memiliki satu titik tato pun di tubuhnya. Dalam dunia seni rupa, ialah orang yang pertama berhasil mengungkapkan bahwa tato tertua di dunia aalah milik suku Mentawai dan beliau terus memperjuangkan hasil penelitiannya tersebut dikarenakan orang-orang Mentawai sudah mentato tubuh mereka sejak pertama datang ke pantai barat Sumatera sejak zaman logam yakni sekitar 1500-500 sebelum masehi.

Kesimpulan yang diutarakan sang Jendral bahwa tato khas suku Mentawai erat hubungannya dengan kebudayaan suku Dongson di Vietnam. Dugaan bahwa orang-orang mentawai berasal dare sana dan motof-motif yang hampir mirip juga ditemukan di suku Hawaii, Kepulauan Marquesas, suku Rapa Nui di kepulauan Ester, dan suku Maori di Selandia Baru.

Dalam penelitiannya, sang Jendral mengungkapkan bahwa tato-tato suku Mentawai lebih demokratis dare suku Dayak yang dimana pada suku Dayak tersebut , tato dijadikan sebagai lambang kekayaan yang menjadikan semakin banyak tato maka semakin kaya.

Hingga akhir usianya, kurator seni, pelukin dan penulis ini sudah beberapa buku yang mengangkat dan menjelaskan tentang seni tato tradisional nusantara yang dimana sudut pandangnya sebagai tato adalah budaya bukan logo kriminalitas yang dianggap sebagai hal yang buruk dimata masyarakat.

Dirangkum oleh : Datuak Rajo Mangkuto