Legenda Batu Bangkai, Kisah Lain Anak Durhaka dari Solok Selatan

Legenda Batu Bangkai, Kisah Lain Anak Durhaka dari Solok Selatan
Kisah ini berada di Solok Selatan, tepatnya di Jorong Batu Bangkai, Nagari Alam Pauah Duo, Kecamatan Pauh Duo, Kabupaten Solok Selatan. Baca selengkapnya....

Kabarantau. com - Masih ingatkah Anda dengan legenda si Anak Durhaka Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu? Ya, cerita ini cukup tersohor di Sumatera Barat dan diceritakan secara turun temurun di masyarakat Minangkabau.

Tak hanya itu, kisah anak durhaka tidak hanya Malin Kundang. Ada juga kisah si Boko yang menjadi legenda terbentuknya Pulau Pasumpahan dan tiga pulau di sekitarnya. Satu lagi cerita tentang anak durhaka yang juga diceritakan dalam masyarakat Minangkabau, dan buktinya masih ada sampai sekarang.

Dilansir dari Saribundo, Selasa 17 Januari 2017, kisah ini berada di Solok Selatan, tepatnya di Jorong Batu Bangkai, Nagari Alam Pauah Duo, Kecamatan Pauh Duo, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat. Berwarna hitam legam seperti habis terbakar, batu yang dinamakan Batu bangkai tersebut berada di tengah sebuah sawah milik warga sekitar.

Menurut cerita turun-temurun warga setempat, dulunya batu itu adalah seorang wanita yang sedang hamil dan dikutuk oleh ibunya. Wanita tersebut adalah seorang yang ditinggal suaminya pergi bekerja ke daerah lain, dan ia tinggal bersama dengan ibunya di rumah.

Saat itu, hujan melanda di daerah rumahnya. Lantaran kondisi atap rumah saat itu tengah bocor, maka si ibu mengajak anaknya yang hamil untuk mencari "palapah karambia" atau yang biasa disebut daun kelapa untuk dibuat menjadi atap baru.

Namun si wanita tadi menolak dan menghardik ibunya dengan kata-kata yang tidak pantas. Sang ibu yang terbawa emosi itu pun khilaf dan mengucapkan sumpah serapah pada anaknya tersebut. Doanya pun didengar oleh Yang Maha Kuasa, dan anaknya berubah menjadi batu.

Kisah inilah yang kemudian menjadi cerita asal usul Batu Bangkai dan kemudian menjadi nama Jorong di Kanagarian Alam Pauah Duo di Solok Selatan. Nilai dari kisah ini adalah bahwa bagaimana pun, orangtua harus tetap dihormati dan dihargai. Jangan sampai membuatnya sakit hati karena perkataan yang tidak pantas.