Djamilah Djambek, Pendekar Kaum Wanita di Sumatera

Djamilah Djambek, Pendekar Kaum Wanita di Sumatera
Tidak hanya tokoh laki-laki, Ranah Minang juga banyak melahirkan sejumlah tokoh wanita di zamannya. Sebut saja, Hajjah Rangkayo Rasuna Said, Roha Kudus, Rahma El Yunisiyah, Siti Manggopoh dan sejumlah tokoh wanita lainnya. Mereka juga memiliki kontribusi yang tak terhitung nilainya bagi negeri ini. Di antara nama sejumlah tokoh wanita di atas mungkin belum banyak yang mengenal tentang Djamilah Djambek. Kontribusi beliau dalam dunia pendidikan di Ranah Minang tidak perlu diragukan lagi. Yuk simak !

Kabarantau.com - Ranah Minang banyak melahirkan sejumlah tokoh-tokoh penting yang jasa-jasanya harus kita ingat dan kenang hingga kapan pun. Berkat perjuangan mereka, Ranah Minang menjadi daerah yang disegani dan memiliki kontribusi yang sangat besar bagi Republik ini.

Tidak hanya tokoh laki-laki, Ranah Minang juga banyak melahirkan sejumlah tokoh wanita di zamannya. Sebut saja, Hajjah Rangkayo Rasuna Said, Roha Kudus, Rahma El Yunisiyah, Siti Manggopoh dan sejumlah tokoh wanita lainnya. Mereka juga memiliki kontribusi yang tak terhitung nilainya bagi negeri ini.

Di antara nama sejumlah tokoh wanita di atas mungkin belum banyak yang mengenal tentang Djamilah Djambek. Kontribusi beliau dalam dunia pendidikan di Ranah Minang tidak perlu diragukan lagi.

Beliau merupakan tokoh wanita yang berpikiran maju dan memperjuangkan banyak hal sesuai dengan jiwa zaman saat itu.

Djamilah Djambek merupakan anak dari Syeikh Djamil Djambek, salah satu tokoh dan ulama besar yang pernah dimiliki oleh Minangkabau. Dia digelari sebagai pendekar kaum wanita di Sumatera.

Setelah Syeikh Djamil Djambek meninggal dunia pada tahun 1947, Djamilah Djambek melanjutkan tongkat estafet untuk memajukan pendidikan di surau yang ditinggalkan oleh sang ayah.

Sebelum meninggal, sang ayah berwasiat untuk tetap mempertahankan pola pengajian sebagaimana yang dilakukannya semasa hidupnya.

Peneliti dan Dosen dari Universitas Leiden, Suryadi Sunuri dalam blognya menuliskan, bahwa Djamilah Djambek tidak sekedar hidup di surau dan mengajar anak-anak perempuan mengaji, melainkan juga tipe wanita yang maju dalam pemikiran.

Oleh sebab itu, Djamilah Djambek yang selalu tampil cantik dan anggun dalam balutan kerudung ini, ingin berbuat lebih banyak untuk masyarakatnya. Dia ingin masyarakatnya pintar dan cerdas dan bisa memberikan kontribusi dan perubahan bagi pembangunan bangsa dan negara ini.

Dalam catatan karirnya, Djamilah Djambek menjadi guru di Moderne Islamitische Kweekschool, hal itu dilakukannya sebagai upaya untuk meningkatkan dan memajukan pendidikan khususnya kedudukan kaum wanita di Sumatera.

Beliau juga aktif di sejumlah organisasi salah satunya beliau pernah menjabat sebagai konsul Aisyah di Lampung dan Palembang.

Rangkayo Djamilah Djambek pun pernah terpilih menjadi anggota dewan perintah kota Bukitinggi pada akhir 1948. Dalam catatan sejarah, belaiu merupakan tokoh wanita pertama yang memangku jabatan tersebut.

Hal tersebut tertuang dalam sebuah media yang menjadi sumber kutipan ini:

"Dikabarkan sudah terpilih mendjadi anggota Dewan Pemerintahan Kota Bukittinggi, Rangkajo Djamilah Djambek, pendekar kaum wanita di Sumatera." Selanjutkan dikatakan: "Nj. Djambek ini terutama terkenal namanja dikalangan Islam, karena hasratnja untuk memadjukan kedudukan kaum wanita di Sumatera.

Dalam usahanja itu, ia pernah mendjadi Konsol Aisjiah di Lampung dan Palembang, pernah mendjadi guru pada Moderne Islamitische Kweekschool bg. [bagian] puteri di Bukittinggi. Belakangan ini (achir 1948) ia dipilih djadi anggota Dewan Perwakilan Kota B’Tkittinggi [Bukittinggi], dan karena kegiatannja, dipilih dalam djabatannja jang penghabisan ini. Rangkajo Djamilah Djambek adalah wanita pertama untuk memangku djabatan tsb di Sumatera."

Demikianlah sedikit nukilan tentang kisah hidup Djamilah Djambek.