Inilah Rajo Mangkuto: Bos Mafia Penakluk Bisnis Pengusaha Belanda

Inilah Rajo Mangkuto: Bos Mafia Penakluk Bisnis Pengusaha Belanda
Namanya Abdul Gani, lahir di Koto Gadang tahun 1817 dan meninggal pada 1907. Dalam bukunya, Rusli Amran: Padang Riwayatmu Dulu (1986:201), menuliskan, bahwa Abdul Gani Rajo Mangkuto adalah kingmaker yang paling hebat di Ranah Minang. Keahlian dan kehebatannya tidak ada tandingannya pada kala itu. Selengkapnya...

Kabarantau.com - Bicara mengenai saudagar atau pengusaha, Ranah Minang dari dulu ternyata telah menghasilkan bakat-bakat alami tersebut. Dan kali ini, dilansir dari Padangkita.com mencoba mengangkat sosok pengusaha paling kaya se Sumatera Tengah pada abad ke 19.

Tokoh ini penuh trik dan intrik, menurut Suryadi Sunuri, peneliti dan dosen di Universitas Leiden, Belanda, orang kaya asal darek ini adalah mafioso atau bos mafia.

Namanya Abdul Gani, lahir di Koto Gadang tahun 1817 dan meninggal pada 1907. Dalam bukunya, Rusli Amran: Padang Riwayatmu Dulu (1986:201), menuliskan, bahwa Abdul Gani Rajo Mangkuto adalah kingmaker yang paling hebat di Ranah Minang. Keahlian dan kehebatannya tidak ada tandingannya pada kala itu.

Dia termasuk tokoh yang berpendidikan, bagaimana tidak, sejak kecil, Abdul Gani bisa mengeyam pendidikan ala Belanda berkat bantuan asisten residen, Steinmetz.

Orang Belanda menilai bahwa Abdul Gani kecil memiliki talenta dan bakat yang bagus, selain itu juga dia merupakan sosok yang cerdas dan rajin.

Tahun 1856 Adbul Gani diminta oleh tokoh Belanda kala itu, Van Ophuijsen membuka sekolah guru dan sekolah itu didirikan di Fort de Kock, Bukittinggi. Dirinya pun menjadi staf pengajar di sekolah tersebut namun tidak lama. Dia memutuskan untuk berwirausaha.

Dari penelitiannya Suryadi Sunuri menulis, berkat bantuan dan dukungan dari Steinmentz, Abdul Gani bisa menjadi pakus (pakhuis) kopi, jabatan basah yang menjadi incaran banyak orang. Jabatan ini pun memiliki banyak turunan dan sabetan.

Berkat kegigihan dan segala usahanya, Abdul Gani pun menjadi orang kaya dan terpandang di Koto Gadang saat itu. Ia pun menjadi orang yang disegani di negerinya.

Atas bantuan Steinmentz pula, bersama saudaranya, Abdul Rahman Dt. Dinagari Urang Kayo Basa, mereka berhasil menempatkan keluarga dan sanak famili mereka di sejumlah sekolah-sekolah rakyat yang baru dibuka. Mereka pun mendapatkan jabatan-jabatan strategis dan empuk seperti kepala laras, pakus, penghulu kepala, jaksa, jurutulis, dll.

"Ibarat bos mafia, dia menempatkan orang-orangnya dalam usaha bisnis yang dijalaninya," tulis Suryadi dalam blognya.

Naluri bisnisnya tajam, instingnya kuat. Selain itu kedekatannya dengan pejabat-pejabat Belanda membuat Abdul Gani mudah untuk memperluas akses dan usaha bisnisnya. Salah satunya adalah ketika dia memenangkan tender pengangkatan kopi milik perusahan Belanda ke sejumlah trayek.

Bahkan bisnisnya semakin meluas dan melebar, bisnis lain yang dia garap adalah pengangkutan jemaah haji ke Mekah. Usahanya hampir menguasai sektor-sektor yang basah saat itu.

"Para pejabat Belanda tak tahan godaan uang semirnya. Belakangan usaha bisnisnya makin melebar, termasuk jasa pengangkutan jemaah haji ke Mekah. Para pebisnis Indo, Cina dan Belanda sendiri gentar juga menghadapi bisnis Abdul Gani," lanjut tulisan Suryadi.

Berkat kesusksesan bisnisnya tersebut, Sumatra Courant edisi 18 Oktober 1876 pernah memuat laporan bahwa pengusaha-pengusaha swasta Belanda pun dibuat tak berkutik olehnya. Mereka pun khawatir menghadapi sepak terjang bisnis Abdul Gani tersebut.

Tidak hanya soal urusan bisnis, Abdul Gani pun masuk dalam arena politik. Dia pernah menantang Kepala Laras IV Koto waktu itu, Datuak Kayo dalam pemilihan kepala Laras. Waktu itu, kepala laras adalah jabatan yang sangat strategis. Pemilihan kepala laras pun biasanya penuh trik dan intrik.

Datuak Kayo awalnya optimis dirinya bisa kembali memenangkan pemilihan tersebut. Menurutnya walaupun Abdul Gani kaya dan banyak uang namun Abdul Gani tak kan bisa memenangkan pemilihan tersebut. Namun uang dan politik berkata lain, Datuak Kayo kalah dan tersingkir.

Abdul Gani menang, calonnya yang merupakan kemenakannya sendiri yakni St. Janaid yang kala itu berusia 16 tahun diangkat menjadi Larah IV Koto.

Hal ini tentu saja semakin memperkuat dominasinya baik dibidang bisnis dan politik saat itu. Abdul Gani memang sosok yang berpengaruh saat itu.

Kekalahan Datuak Kayo berimbas panjang, ibarat sebuah rezim yang ditumbangkan, keluarga Datuak Kayo yang sedang menjabat mendadak disingkirkan, digantikan oleh anggota keluarga Abdul Gani.

Satu persatu, kelaurga Datuak Kayo dilengserkan, salah seorang diantaranya adalah Jaksa St. Salim di Padang. Posisi Saudara Dt. Kayo itu digantikan oleh saudara Abdul Gani yakni Abdul Rahman Dt. Dinagari.

Abdul Gani meninggal di Koto Gadang tanggal 29 Januari 1907. Rusli Amran dalam bukunya menulis: Abdul Gani wajib dicatat sebagai anak Minang terkaya di zamannya.

Bisnis dan politik perkoncoan dari dulu sudah ada dan modus operandinya sama saja. Belum yakin jugakah Anda bahwa sejarah sebenarnya memang berulang?