Tupai Janjang, Teater Monolog Edukasi dari Luhak Agam

Tupai Janjang, Teater Monolog Edukasi dari Luhak Agam
Teater rakyat ini ditampilkan oleh satu orang yang memulai pertunjukannya dengan duduak baselo ditengah gelanggang yang dikelilingi penonton dan membuka dengan pantun diatas. Biasanya pertunjukan ini dimulai setelah shalat Isya hingga menjelang Subuh. Yuk Intip !

Kabarantau.com - Tupai Janjang, Teater Monolog Edukasi dari Luhak Agam

 Ampun baribu kali ampun,

Ampunlah kami niniak mamak,

Sarato sanak jo sudaro,

Sapuluah jari kami susun,

Maaf dipintak banyak-banyak,

Kami mambukak kaba lamo… oii



Banda urang kami bandakan,

Banda nak urang Koto Tuo,

Kaba urang kami kabakan,

Baduto kami tak sato… oii


Balayia kapa di Sibolga,

Mamuek tantang Koto Panjang,

Sialah konon nan takaba,

Iyolah kaba Tupai Janjang.

 

            Begitulah kira-kira pantun pembuka dari kaba (dongeng) Tupai Janjang adalah tradisi bakaba yang berasal dari Nagari Piladang, Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Cerita berkisah tentang seorang anak semata wayang yang slalu dimanja hingga tingkah lakunya tak karuan. Tupai Janjang, begitu ia biasa dipanggil.

            Teater rakyat ini ditampilkan oleh satu orang yang memulai pertunjukannya dengan duduak baselo ditengah gelanggang yang dikelilingi penonton dan membuka dengan pantun diatas. Biasanya pertunjukan ini dimulai setelah shalat Isya hingga menjelang Subuh. Pendongeng menampilkan kisah bermonolog lengkap dengan gerakan tubuh mempraktekkan gerakan tokoh-tokoh yang ada didalam cerita. Kaba Tupai Janjang sendiri selalu ditampilkan oleh seorang laki-laki.

            Kaba ini ditampilkan pada saat upacara adat Minangkabau dan alek nagari yang pada mulanya bertempat di pelataran surau/masjid, namun lambat laun sudah dipindahkan ke medan nan bapaneh dikarenakan surau/masjid adalah tempat ibadah, namut kaba itu sendiri bersifat hiburan edukasi.

            Menurut yang dikisahkan, cerita ini bermula dari sepasang suami istri, Datuak Bandaro dan Puti Linduang Bulan. Sepasang suami istri yang hidup sebagai petani. Sudah lama hidup berdua tanpa seorang anakpun. Mereka adalah pasangan yang gigih dalam bertani, apapun yang mereka tanam sukses dalam panen, subuh buta sudah berangkat ke ladang dan sukses sebagai petani yang terpandang di desanya.

            Suatu hari, setibanya di ladang, Datuak Bandaro kaget setengah mati melihat kebunnya porak-poranda. Setelah diselidiki, itu semua adalah ulah seekor tupai. Geram dengan tingkah tupai itu, Datuak Bandaro bertekat ingin memburu tupai itu. Beberapa hari, dengan berbekal sumpit, ia buru si tupai itu. Namun tak satu kali pun sumpit mengenai sang tupai.

            Hampir putus asa, Datuak Bandaro bercerita kepada Puti Linduang Bulan. "Bisuak kito buru baduo (besok kita buru berdua.)," kira-kira begitulah yang diungkapkan Puti Linduang Bulan pada suaminya. Esok harinya, berangkatlah mereka berdua menuju ladang yang biasa mereka garap.

            Melihat tupai yang ingin dibunuh suaminya, Puti Linduang Bulan pun meminta pada suaminya untuk tidak membunuh tupai yang menurutnya ciptaan tuhan yang indah itu. Seketika Puti Linduang Bulan meminta pada tuhan menginginkan anaknya kelak seperti tupai itu. Singkat cerita lahirlah si Tupai Janjang.

            Beranjak dewasa, perangai si tupai benar-benar membuat pusing orang sekampung. Hari demi hari ada saja orang kampung yang menemui Datuak Bandaro meminta ganti rugi atas ulah anaknya yang memporak-porandakan kebun warga. Sebab itu pula lah suami istri Datuak Bandaro dan Puti Linduang Bulan selalu bertengkar setiap harinya. Hingga suatu ketika, dengan alibi ingin mengajak Tupai Janjang jalan-jalan, Datuak Bandaro meminta izin kepada Puti Linduang Bulan.

            Dalam perjalanan tak ada satupun yang aneh dari anak dan bapak ini. Hingga sampai pada suatu tempat, Datuak Bandaro mengutarakan maksutnya untuk meninggalkan Tupai Janjang di hutan itu. Dengan berlinang air mata, Tupai Janjang memeluk ayahnya tanpa sepatah katapun bahasa manusia.

            Singkat kata, Tupai Janjang hidup seorang diri di hutan itu. Suatu ketika, karena rindu, Tupai Janjang berkeinginan menemui ayah ibunya di desa. Dengan semangat Tupai Janjang berlari mencari jalan keluar hutan. Namun bukan desa yang ditemuinya, tapi sebuah pondok ditengah kebun milik warga. Karena rindu makanan manusia, Tupai Janjang langsung menuju dapur untuk mencari makanan yang tersisa.

            Itulah pondok di kebun Mande Rubiah. Berhari-hari Tupai Janjang kembali ke pondok itu. Memakan apapun makanan yang bisa ia makan. Hingga akhirnya Mande Rubiah sadar ada yang tidak beres di kebunnya. Beranggapan bahwa itu ulah tikus, Mande Rubiah memasang jebakan tikus disekitar pondok dan kebunnya. Setelah beberapa hari, Mande Rubiah manyilau kembali jebakan yang ia pasang, namun bukan tikus yang terperangkap, ialah si Tupai Janjang.

            Tupai nan rancak membuat geram Mande Rubiah hilang. Dengan izin dari Mak Itam suaminya, Mande Rubiah pun merawat Tupai Janjang sebagai peliharaannya. Setiap hari Tupai Janjang diberi buah-buahan segar, namun tak satupun yang ia makan. Mande Rubiah pun heran, setiap kali diberi buah, Tupai Janjang selalu menunjuk nasi yang ia dan Mak Itam makan. Dan sejak saat itu Mande Rubiah dan Mak Itam memberi Tupai Janjang makanan layaknya manusia.

            Singkat cerita, setelah bertahun-tahun dirawat Mande Rubiah, ketika beranjak remaja, Tupai Janjang berubak menjadi manusia normal, namun demikian, kemampuan tupainya tidak serta merta lenyap bersama wujud tupainya, lincah dan suka memanjat, bahkan saat memanjat pohon seperti sedang menaiki jenjang, sebab itulah ia dipanggil Tupai Janjang. Bulu-bulu yang rontok dari tubuhnya berubah menjadi emas dan membuat Mande Rubiah dan Mak Itam menjadi kaya raya seketika. Namun hal itu tak membuat mereka menjadi sombong, Mande Rubiah dan Mak Itam menjadi dermawan yang terkenal dimasanya.

            Kembali ke Datuak Bandaro dan Puti Linduang Bulan, sepeninggalan Tupai Janjang, Puti Linduang Bulan menjadi sakit-sakitan, sebab itu pula Datuak Bandaro tidak mampu lagi menggarap kebunnya karena harus merawat sang istri, merekapun jatuh miskin dan melarat.

            Suatu ketika, Datuak Bandaro mendengar cerita kedermawannan Mande Rubiah dan Mak Itam. Setelah meminta izin pada istrinya, berangkatlah Datuak Bandaro ke desa tempat Mande Rubiah tinggal demi mengharapkan kedermawanan Mande Rubiah dan Mak Itam untuk biaya berobat Puti Linduang Bulan.

            Sesampainya di istana Mande Rubiah, diceritakanlah semua keluh kesah kehidupannya kepada Mande Rubiah, Mak Itam dan Tupai Janjang. Mendengar ada sesuatu yang jangal, Tupai Janjang menanyakan siapa nama istri dari Datuak Bandaro, dengan yakin Datuak Bandaro menyebutkan nama Puti Linduang Bulan. Seketika terperatjatlah si Tupai Janjang dan langsung bersujut memeluk kaki ayahnya, Datuak Bandaro. Ia menceritakan semua apa yang terjadi. Menangis meraung-raunglah kedua bapak dan anak tersebut.

            Setelah tercapai keinginan sang ayah, Tupai Janjang meminta izin pada Mande Rubiah untuk pulang menjenguk ibunya, Puti Linduang Bulan yang sedang sakit keras. Mande Rubiah dan Mak Itam tak bisa melarang dan mengizinkannya untuk kembali ketempat ia berasal. Sesampai Tupai Janjang di hadapan ibu kandungnya, semua penyakit dan penderitaan Puti Linduang Bulan langsung lenyap seketika. Memang itulah obat yang paling mujarab yang ditunggu-tunggunya dari dulu.

 

Berikut adalah sepenggal dialog dari kaba Tupai Janjang ;

 "Pihak kapado Datuak Bandaro, sahabih kato maso itu, inyo bajalan pulang, tinggalah kini Tupai Janjang, Tupai Janjang baibo ati. Lalu dipanjek kayu gadang, malengong suok jo kida, taraso lapa dalam paruik, tampak jauah bantuak ladang. Lalu dikaja maso nantun,inyo badoncek ka kayu gadang, dari kayu sampai ka kayu, nan lah sampai di tapi ladang, iyolah ladang Mande Rubiah. Taraso litak dalam paruik, inyo pai ka ladang, diambiak jaguang maso nantun, lalu dikuih maso nantun."

 Dirangkum oleh : Datuak Rajo Mangkuto