Deretan 14 Cerita Dari Sumatera Barat Yang Diangkat Menjadi Film di Tahun 2000-an

Deretan 14 Cerita Dari Sumatera Barat Yang Diangkat Menjadi Film di Tahun 2000-an
Bebeberapa cerita bahkan pernah diangkat menjadi film, FTV, Mini Seri dan Sinetron. Seperti cerita-cerita dari Sumbar yang diangkat menjadi film berikut ini:

Kabarantau.com Sumatera Barat kaya budaya dan keindahan alam, selain itu juga banyak menyimpan cerita-cerita. Mulai dari cerita rakyat yang diceritakan dari mulut ke mulut dan dari generasi ke generasi hingga cerita roman dan fiksi karya para sastrawan kelahiran Ranah Minang. Bebeberapa cerita bahkan pernah diangkat menjadi film, FTV, Mini Seri dan Sinetron. Seperti cerita-cerita dari Sumbar yang diangkat menjadi film berikut ini:

Jangan Panggil Aku China

Ini adalah salah satu FTV dengan tema cerita Sumatera Barat yang booming banget di jamannya. FTV ini ditayangkan tahun 2002 bercerita tentang seorang dokter yang diperankan Teddy Syah dan Olivia (Pia) yang diperankan Leony Vitria Hartanti.

Konflik di film ini cukup menarik, sang dokter bernama Yusril akan dijodohkan oleh Mamaknya dengan anaknya (Pulang ka bako). Tapi disaat itu dia juga jatuh cinta dengan Pia, gadis keturunan Tionghoa. Lebih tragisnya lagi, Yusril ini adalah lelaki Pariaman, sehingga untuk menikah dengannya, Pia harus menyediakan uang jemputan hingga puluhan juta.

Namun cinta tak menyurutkan langkah Yusril dan Pia. Diam-diam Yusril menjual mobilnya untuk membantu Pia membiayai uang jemputan sebesar Rp 40 juta bagi Yusril. Tapi hasil penjualan mobil tersebut hanya 20 juta. Setelah lika-liku yang panjang dan penuh drama, akhirnya syarat uang jemputan itu dibatalkan oleh Mamak Yusril. Yusril bahkan diberi uang Rp 40 juta oleh Mamaknya untuk melanjutkan kuliah. Ia pun akhirnya menikah dengan Pia. Tapi kisah ini tak hanya berakhir di FTV. Karena kemudian banyak yang menjadikan kisah tersebut sebagai bahan penelitian, skripsi bahkan tesis.

Dibawah Lindungan Ka'bah

Film ini merupakan adaptasi dari novel karangan Buya Hamka dengan judul yang sama. Film yang dirilis tahun 2011 ini dibintangi oleh Herjunot Ali dan Laudya Cynthia Bella serta disutradarai oleh Hanny R. Saputra.

Film ini bercerita tentang dua seorang pemuda miskin bernama Hamid yan mencintai Zaenab anak dari keluarga kaya. Hamid kemudian disekolahkan oleh ayah Zaenab, sementara ibunya bekerja di rumah Zaenab. Seringnya pertemuan antara Hamid dan Zaenab membuat keduanya jatuh cinta. Namun hutang budi dan perbedaan status sosial membuat cinta mereka tak bisa bersatu.

Hamid pun akhirnya terusir dari kampung, ia kemudian pergi ke Mekkah. Sementara di kampung, Zaenab berjanji hanya akan menikah dengan orang yang dicintainya. Zaenab pun akhirnya meninggal dan mendengar kabar tersebut, Hamid di Mekkah jatuh sakit lalu menyusul Zaenab menghadap sang ilahi.

 Tenggelamnya  Kapal Van Der Wijk

Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk merupakan film yang diadaptasi dari sebuah novel karya Buya Hamka dengan judul yang sama. Film ini dirilis tahun 2013 dan disutradarai oleh Sunil Soraya.

Film ini diproduksi dengan biaya yang cukup tinggi, bahkan film ini adalah film termahal yang dibuat oleh Soraya Intercine Films. Proses produksinya memakan waktu lima tahun dan penulisan skenarionya selama dua tahun.

Tujuh Manusia Harimau

Tujuh Manusia Harimau adalah sebuah novel karya sastrawan Minang Motinggo Boesje yang diterbitkan pada 1980. Serial novel ini terdiri dari 10 jilid.

Pertama kali diadaptasi menjadi film pada tahun 1986. Film dengan judul yang sama dengan Novelnya tersebut disutradarai oleh Imam Tantowi dan diperankan antara lain oleh Ray Sahetapy dan El Manik. Sekarang 7 Manusia Harimau diproduksi kembali dalam bentuk Sinetron oleh SinemArt dan ditayangkan di RCTI. Lokasi syutingnya dilakukan di sebuah desa di Bengkulu.

Film dan Novel ini bercerita tentang cerita mistis tentang manusia harimau atau 'Inyiak' dalam sebutan keseharian oleh masyarakat Minangkabau. Cerita ini dipercayai turun temurun dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Merantau

Film ini menceritakan tentang tradisi merantau bagi laki-laki di Minangkabau. Film bergenre laga ini dibintangi oleh Iko Uwais dan sejumlah aktor lainnya serta disutradarai oleh Gareth Evans.

Selain menceritakan tradisi merantau bagi lelaki Minang, dalam film ini yang cukup banyak ditonjolkan adalah Silek (Silat) Harimau yang dipelajari oleh Yuda (Iko Uwais) sebelum ia pergi Merantau.


Disarikan dari infosumbar