Uniknya Bentuk Rumah Wae Rebo & Kisah Nenek Moyangnya yang Berasal dari Tanah Minang

Uniknya Bentuk Rumah Wae Rebo & Kisah Nenek Moyangnya yang Berasal dari Tanah Minang
Dibalik adat istiadatnya yang kental, Desa Wae Rebo memiliki sebuah cerita soal nenek moyangnya yang ternyata berasal dari luar Pulau Flores. Yuk simak!

Kabarantau. com - BERDIRI di sebuah pegunungan di daerah Flores, Desa Wae Rebo ternyata menyimpan sebuah keunikan adat istiadat dan cerita rakyat yang dapat mencengangkan para wisatawannya. Keunikan desa mampu memikat wisatawan dan menimbulkan banyak pertanyaan.

Pertanyaan-pertanyaan seputar keunikan adat istiadat dan nenek moyang masyarakat Desa Wae Rebo yang menjadi alasan utama mengunjungi desa ini.

Desa Wae Rebo memiliki 7 buah rumah utama yang disebut sebagai Mbaru Niang, dan berdiri diketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. Ketujuh rumah ini tidak bisa ditambah ataupun dikurangi. Bahkan, masyarakat tidak boleh membangun rumah yang sama persis dengan Mbaru Niang. Sebab, rumah utama harus tetap berjumlah 7.

Rumah unik berbentuk kerucut tersebut juga dikenal dengan nama Rumah Bundar, sama sekali tidak sesuai dengan bentuknya. Dalam satu rumah hanya diisi oleh 6 hingga 8 keluarga. Dan, uniknya lagi rumah ini memiliki diameter serta ketinggian yang sama.

Dibalik adat istiadatnya yang kental, Desa Wae Rebo memiliki sebuah cerita soal nenek moyangnya yang ternyata berasal dari luar Pulau Flores.

Nenek moyang masyarakat Desa Wae Rebo bernama Empo Maro. Pria yang berasal dari Minangkabau, Sumatera Selatan itu menempuh perjalanan panjang dan sempat berpindah-pindah desa sebelum sampai di Desa Wae Rebo.

Cerita menyebutkan, Empo Maro berlayar dari kampung halamannya Tanah Minang hingga akhirnya berlabuh di Pulau Flores.

Setelah tiba di Pulau Flores, Empo Maro berpindah-pindah dari satu desa ke desa yang lainnya karena masalah yang menimpa. Untuk menghindari permasalahan tersebut, ia pun akhirnya pindah dan menempati sebuah desa, kemudian mendapat ilham dalam tidur. Ia bertemu dengan seekor musang yang menyarankannya untuk pindah dari tempat tinggalnya yang sekarang ke sebuah daerah di arah timur.

Singkat cerita, daerah yang dimaksud itu adalah Desa Wae Rebo. Desa yang berada di atas awan, dan memiliki udara yang sangat segar khas pegunungan.

Empo Maro pun beranak pinak dan berkembang di desa tersebut. Hingga akhirnya, Desa Wae Rebo menjadi desa eksotis yang menarik untuk dikunjungi, terbuka dengan wisatawan, namun tetap menjaga kearifan lokal dan adat istiadat kebudayaannya.

(ren)