Unik, Transaksi Jual-beli Unik Khas Minang Menggunakan Bahasa Isyarat

Unik, Transaksi Jual-beli Unik Khas Minang Menggunakan Bahasa Isyarat
Unik, Transaksi Jual-beli Unik Khas Minang Menggunakan Bahasa Isyarat

Kabarantau. com - Masyarakat Minangkabau memiliki tradisi unik dalam jual-beli ternak. ya, tradisi Marosok. tradisi ini kian marak menjelang hari raya Idul Adha, Senin 31/7.

Tradisi Marosok ini biasa digelar di pasar ternak sejumlah kawasan di Sumatra Barat. Berbeda dengan transaksi jual beli pada umumnya, dalam tradisi marosok transaksi dilakukan secara diam-diam.

Tradisi ini melibatkan dua orang (penjual dan pembeli) dengan bahasa isyarat menggunakan tangan. Saling berjabat tangan layaknya bersalaman dengan memainkan jari-jari tangan sebagai bahasa isyarat dari nilai-nilai angka rupiah yang disepakati.

Uniknya permainan tangan ini tertutup bagi orang lain. karena biasanya penjual dan pembeli menutupi tangan mereka dengan sarung, topi, baju atau benda lain. tujuan dari dikap ini agar orang lain tak mengetahui proses transaksi tersebut. sehingga harga ternak yan diperdagangkan hanya diketahui oleh penjual dan pembeli.

Bagi orang yang paham dengan isyarat tangan dan jari dapat mengartikan jari telunjuk dan tengah yaitu 22 Juta rupiah dan tangan kiri merapatkan lima jemari menjadi satu berarti 500 ribu rupiah. Itu berarti transaksi tersebut bernilai kurang lebih Rp. 22.500.000. apabila sudah negosiasi untuk nilai kurang atau lebih akan terjadi gerakan-gerakan jemari diantara tangan yang bersalaman tersebut.

"semua transaksi jual beli secara marosok biasanya dilakukan dengan kata sepakat. Tak ada yang berkecil hati, tak ada saling curiga. Semua transaksi tanpa paksaan, karena semua dilakukan dari niat di hati sang pembeli dan penjual. Semua sepakat saling berlapang hati bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah Subhanahu Wa Taala," ujar Pak Datuak Pedagang hewan ternak.

Tidak ada yang mengetahui secara pasti, kapan tradisi ini mulai dilakukan. Sejumlah pedagang ternak hanya mengakui, tradisi ini sudah dimulai sejak zaman raja-raja di Minangkabau dan diterima secara turun-temurun. (HSN)