Ada Kisah Memilukan Dibalik Sifat Merantau dan Sejarah Orang Padang

Ada Kisah Memilukan Dibalik Sifat Merantau dan Sejarah Orang Padang
Ada Kisah Memilukan Dibalik Sifat Merantau dan Sejarah Orang Padang

Kabarantau.com - Merantau, satu kata yang sulit rasanya untuk dipisahkan jika kita membicarakan "orang Minang" . Selain dari pada pembahasan mengenai kulinernya yang termasyhur, ataupun adat budayanya yang khas, pola hidup merantau masyarakat dari salah satu etnis terbesar di barat pulau Sumatera ini seperti sudah menjadi sebuah stigma yang melekat erat dalam kehidupan masyarakatnya.

Bahkan menurut data statistik yang ada, diperkirakan jumlah masyarakat minang yang ada di perantauan jumlahnya melebihi jumlah orang minang yang saat ini mendiami tanah leluhurnya yaitu wilayah Sumatera Barat. Bahkan dari beberapa literatur, sikap gemar merantau "orang Minang"  ini disamakan dengan keuletan masyarakat etnis Tionghoa dalam menjelajah dunia.

Namun, apakah yang menyebabkan masyarakat minang di perantauan saat ini cenderung untuk mengatakan identitas mereka sebagai "orang Padang" dan terasa jarang untuk menyebutkan bahwa mereka adalah "Orang Minang" ?? Bukankah orang minang itu sendiri sebenarnya berasal dari banyak daerah di Sumatera Barat seperti Bukittinggi, Payakumbuh, Batusangkar, Solok atau daerah lainnya, dan bukan sebatas berasal dari kota Padang saja?

Tidak ada memang literatur atau fakta hasil penelitian yang khusus membahas atau menggali hal ini lebih dalam, kaarena budaya merantau memang telah dijalani oleh masyarakat minang semenjak dahulu kala. Namun fakta sejarah membuktikan bahwa ada periode dimana terjadi "eksodus" secara besar-besaran masyarakat Minang meninggalkan tanah leluhurnya.

Sejarah itu mencatat bahwa periode perkembangan terbesar jumlah orang minang yang merantau keluar dari wilayah Sumatera Barat itu terjadi pada pasca kekalahan pasukan PRRI di Sumatera tengah pada tahu 1958. Pecahnya peristiwa PRRI pimpinan Ahmad Husein di Sumatera Tengah dan diikuti oleh Permesta pimpinan Sumuel di Sulawesi, awalnya terjadi karena ketidakpuasan tokoh-tokoh di daerah terhadap ketimpangan ekonomi dan tidak adilnya pembangunan antara daerah pusat yaitu pulau jawa, dengan daerah luar Jawa. Ketidak puasan yang berujung pada pernyataan pembentukan pemerintahan sendiri di Sumatera dan Sulawesi, memantik berkobarnya perang saudara bersenjata.

Pada Tahun 1961, pemberontakan dinyatakan berakhir dengan kekalahan pasukan PRRI yang bertahan di dataran tinggi Minangkabau, setelah ditumpas oleh tentara pusat pimpinan Kolonel Ahmad Yani dalam "Operasi 17 Agustus"  yang bermarkas di Kota Padang. Praktis sejak saat itu seluruh wilayah Sumatera Barat dikuasai dan dikendalikan oleh pemerintah Pusat.

Namun kekalahan ini ternyata menimbulkan luka yang mendalam bagi masyarakat Minangkabau. Masyarakat minang yang selama ini merasakan bahwa daerah mereka mempunyai peran yang sangat penting bagi kemerdekaan Indonesia melalui jasa tokoh-tokohnya seperti Hatta, Syahrir, H. Agus Salim, Tan Malaka, Muhammad Yamin, M. Natsir, Hamka dan puluhan tokoh lainnya, kini harus menerima kenyataan sebagai masyarakat yang kalah.

Luka yang mendalam ini menimbulkan perasaan rendah diri dan malu, apalagi setelah kekalahan ini, praktis hampir di seluruh pos-pos jabatan pemerintahan di Sumatera Barat diisi oleh bukan  orang minang lagi, melainkan digantikan oleh pejabat-pejabat yang didatangkan dari pusat (Jawa). Hal inilah yang kemudian memicu eksodus orang-orang minang meninggalkan kampung halamannya pada periode tahun-tahun sesudan kekalahan yang kelam tersebut.

Menurut Audrey Kahin, seorang peneliti bidang sejarah Asia Tenggara dari Cornell University, dalam bukunya "Dari Pemberontakan Ke Integrasi, Sumatera Barat dan Politik Indonesia 1926-1998" terbitan Yayasan Obor Indonesia 2005 mengatakan, " Tahun-tahun sesudah pemberontakan, merupakan titik nadir untuk Sumatera Barat. Banyak orang yang mengikuti pemberontakan meninggalkan  daerah, dan dimana mereka mendapatkan tempat berteduh seringkali merasa malu bahkan untuk mengakui identitas Minang mereka. Sumatera Barat sendiri seperti daerah taklukan, diperintah oleh kerumunan pejabat dan tentara pusat (Jawa)  yang tumpah ruah kesana selama dan sesudah pemberontakan. Dengan orang "pusat"  yang menduduki hampir semua pos senior di kantor Gubernur (Gubernur sendiri orang minang), militer dan kepolisian, orang Sumatera Barat melihat diri mereka sebagai warga kelas dua…….(hal.360)"

Senada dengan itu, Taufik Abdullah dalam kata pengantar buku karangan Audrey Kahin tersebut diatas mengatakan : "Meskpun Minangkabau entah sejak abad keberapa telah dikenal sebagai daerah yang banyak menghasilkan perantau, tetapi secara statistik "diaspora" yang sesungguhnya orang daerah ini barulah terjadi setelah peristiwa PRRI/Permesta meletus. "Restoran Padang" menjadi bagian dalam kehidupan nasional, baru bermula sejak krisis ini pula…..(hal. xv)"

 Jadi, mungkinkah dahulunya sebutan " Orang Padang" ini untuk menghilangkan atau sekurang-kurangnya mengaburkan Identitas ke-Minang-annya?? Atau hal ini jugakah yang menyebabkan sekarang istilah "Masakan Padang" lebih populer dari pada "Masakan Minang" ??