Imam Usman, Pemuda Minang CEO Ruangguru.com

Imam Usman, Pemuda Minang CEO Ruangguru.com

Kabarantau.com – Anak muda Minang yang satu ini merupakan CEO sekaligus Co-Founder "ruangguru.com".

ya, Imam Usman (24) yang Bersama sahabatnya Belva Devara mendirikan ruangguru.com pada 2013. Kini, RuangGuru adalah satu dari sedikit startup edtech di Asia Tenggara yang telah memperoleh tahap pendanaan Seri-A.

RuangGuru memiliki peluang yang bagus menjadi startup ternama di Indonesia tahun ini, dan mereka memiliki ambisi tersendiri. Kantornya terletak di dalam sebuah ruko di jalan Tebet Raya, Jakarta dan berada di dalam sebuahruko.

"Kisah ini dimulai ketika saya dan Belva berkesempatan melanjut kan pendidikan ke USA," tuturnya.

Untuk mempersiapkan tes yang akan mereka hadapi mereka mencoba mencari guru privat online yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Dalam proses pencariannya, mereka menyadari bahwa pasar ini tak beraturan dan tak efisien.

Hanya sedikit tempat bimbingan belajar yang terdaftar di Indonesia, dan tiga tempat bimbel ternama di Indonesia hanya memiliki sekitar 200.000 hingga 300.000 siswa yang bergabung.

Sedangkan Iman tahu bahwa secara keseluruhan di Indonesia ada 60 juta anak-anak dan remaja yang masih bersekolah. Dari sini kami sadar bahwa ada pasar yang luas dan belum terjamah untuk ia gali," jelasnya.

Kemudian muncul gagasan membangun marketplace sebagai guru privat. "Nantinya, marketplace ini akan menjembatani pencarian antara siswa dan guru privat, membuat prosesnya menjadi lebih transparan
dengan cara pemberian rating dan review, dan mempermudah prosedur  pembayaran," ucap Iman, si anak spesial yang sudah mulai menulis blog sejak masih duduk di bangku SD.

Lalu, pada usia 10 tahun, ia meluncurkan organisasi nirlaba pertamanya (mengajar teman sebaya tanpa memungut biaya). Saat ia menapaki jenjang SMP, ia mulai menjalankan bisnis online pertamanya.

Tahun-tahunnya selama berseragam sekolah dan duduk di bangku kuliah, Iman lewati dengan gelimang pencapaian dan penghargaan atas kepemimpinannya dalam gerakan kepemudaan serta kesuksesan akademisnya. Ia melanjutkan program pascasarjana di Columbia University dengan beasiswa penuh. Ia gunakan beasiswa itu untuk mengejar gelar S2 di bidang pendidikan.

Kamu pasti berpikir kalau anak seperti Iman dibesarkan di lingkungan akademis yang berprestasi dan berorientasi global. Justru sebaliknya Iman tumbuh besar di Kota Padang, jauh dari hiruk-pikuk ibukota Indonesia, Jakarta.

Imam, putra bungsu dari enam bersaudara tumbuh dan besar di Kota Padang. Kedua orang tuanya tak mengenyam pendidikan kuliah. Lingkungan dan didikan yang diperolehnya tergolong tradisional dan sederhana. Ada hal yang memantik diri Iman ketika ia masih berusia belia, ialah internet.

"Rasanya menggelikan, orang-orang selalu menduga bahwa saya terinspirasi oleh tokoh tertentu. Namun, sesungguhnya tidak demikian," ucap penggemar Harry Potter garis keras.

Ia habiskan berjam-jam waktunya untuk berselancar di dunia maya, chatting dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia di komunitas Harry Potter, dan memainkan game yang merupakan adaptasi dari novelnya.

Kemudian, ia memaksa dirinya belajar Bahasa Inggris secara otodidak karena ia tak sabar menunggu buku terjemahan novel tersebut yang tak kunjung keluar. Berkat Harry Potter jugalah Iman menemukan passion untuk mengajar.

"Saya ingin orang lain memandang saya dan keluarga saya dengan cara yang berbeda. Saya ingin tunjukkan bahwa pendidikan merupakan kendaraan dalam meraih impian," ucap Iman tertawa mengingat kembali bagaimana tergila-gilanya ia pada Harry Potter, namun ia tak menyangkal bahwa novel tersebut membawa pengaruh besar bagi
dirinya.

Persahabatan, keberanian, dan kemauan untuk belajar, itulah nilai-nilai yang ia serap selama berkelana di dunia fantasi. Kemampuan sosial dan akademisnya lah yang berhasil menghadirkan nilai-nilai tersebut ke dunia nyata. (lenggo)

Harian Umum Independen Singgalang 2016

Sumber