Kisah Ahmad Sahroni, Tukang Ojek Payung Jadi Pebisnis Rental Kapal dan ketua Ferrari Owner's Club of Indonesia

Kisah Ahmad Sahroni, Tukang Ojek Payung Jadi Pebisnis Rental Kapal dan ketua Ferrari Owner's Club of Indonesia
Kisah Ahmad Sahroni, Tukang Ojek Payung Jadi Pebisnis Rental Kapal dan ketua Ferrari Owner's Club of Indonesia

Kabarantau.comDulu waktu balita dia sering tidur di gerobak jualan nasi, tapi kini dia sudah bisa duduk di mobil Ferrari. Jika remaja dulu tangannya acap belepotan oli karena menjadi montir, kini selalu disibukan menandatangani transaksi bisnis dengan para relasi. Kalau dulu untuk mendapat uang jajan dia mengojek payung dan menyemir sepatu, sekarang objekkannya menyewakan kapal tongkang miliknya kepada perusahaan pertambangan dan pengeboran.

Di mata masyarakat umum, nama pengusaha H Ahmad Sahroni SE mungkin belum terpandang. Tapi di kalangan pebisnis di Tanah Air, entrepreneur muda yang akrab disapa Roni ini sudah populer. Terlepas dari itu, zig-zag kehidupan Presiden Direktur PT Ruwanda Satya Abadi yang tak pernah melihat ayah kandungnya ini cukup menarik untuk disimak. 

Pria yang pada 8 Agustus lalu berusia 37 tahun ini masa kecilnya besar di salah satu lingkungan kumuh di Tanjung Priok Jakarta. Kala itu, bersama ibu, ayah tiri, dan adik tirinya, Roni tinggal di rumah kontrakan tanpa kamar di gang sempit dan becek yang hanya bisa dilalui sepeda motor. Sementara di luar rumah yang tak berplester itu, terhampar rawa yang dipenuhi enceng gondok, yang apabila airnya meluap, lintah berkeluaran merayapi dinding rumah mereka.

Ibu Roni, Hernawati, kesehariannya berjualan nasi Padang di pelabuhan Tanjung Priok, tak jauh dari rumahnya. Perempuan ini sering membawa Roni kecil jika berjualan. Saat melayani pembeli, Roni ditaruh di gerobak jualan hingga bocah itu tertidur.

Besar ditengah keluarga yang pas-pasan membuat Roni berpikir harus ikut membantu ringankan beban keluarga sebatas yang bisa dia kerjakan. Ketika teman-teman sebayanya asyik menikmati masa bermain, di masa SD Roni justru harus berjibaku jadi tukang ojek payung, tanpa sepengetahuan ibunya.

Di SMP, pulang sekolah dia cari duit sebagai penyemir sepatu. Hasilnya yang tak seberapa itu dia gunakan untuk membeli buku tulis atau untuk membayar tiket masuk kolam renang, olahraga kesenangannya. 

Lulus SMA tahun 1997, dia mengawali kerja jadi sopir pribadi sekaligus pesuruh. Gajinya Rp5.000 sehari. Walaupun bayarannya kecil, Roni melakukannya dengan senang hati karena ia jadi bisa menyetir.

Kemudian sempat pula dia jadi tukang cuci kuali di kapal pesiar. Setelah itu balik lagi jadi sopir, namun merangkap tukang gotong selang kapal pengangkut bahan bakar di pelabuhan Tanjung Priok. Dari sini pengalaman kerjanya di bidang proyek-proyek pelabuhan dan perkapalan semakin terasah. 

Singkatnya, Roni berhenti kerja, lalu membuka perusahaan jasa pengakutan transportasi laut dengan dana dari pemodal, namun hasil dari kerjasama tersebut tidak cukup memuaskan.

Peruntungannya berubah pada 2004 ketika ia membuka perusahaan sendiri, meski   pada awalnya menghadapi berbagai kesulitan. 
Hingga kemudian dari bisnisnya itu dia bisa memiliki tiga kapal tongkang yang disewakan kepada perusahaan pertambangan dan pengeboran. Tak hanya itu dia juga mendirikan usaha bidang peralatan konstruksi.

Di bidang organisasi, tahun 2012 sampai sekarang, Roni dipercaya sebagai Presiden FOCI (Ferrari Owners Club Indonesia). Dia sendiri di rumahnya memang punya 2 unit supercar berlambang "Kuda Jingkrak" itu, yakni Ferrari 430 dan Ferrari 458 Italia. Masih ada lagi beberapa mobil mewah dimilikinya, salah satunya yaitu Lamborghini Aventador LP-700, mobil yang juga dimiliki pesepakbola Cristiano Ronaldo. Di bidang politik, dia pun tak mau berdiam diri. Namanya kini tercatat sebagai anggota DPR RI periode 2014 - 2019 dari Partai Nasdem.