Sutan Aswar, Urang Awak Perintis AURI dan Penemu Bahan Bakar Pesawat Terbang

Sutan Aswar, Urang Awak Perintis AURI dan Penemu Bahan Bakar Pesawat Terbang

Kabarantau.com - Salah satu sosok yang sangat berjasa dalam mendirikan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) adalah tokoh dari ranah Minang.

Namanya Sutan Aswar, lahir di Padang 23 Juni 1925 dan meninggal dunia di Jakarta 27 Agustus 2006. Selain sebagai salah satu tokoh pendiri AURI, beliau juga pencipta bahan bakar pesawat terbang (saat ini AVTUR) pertama di Indonesia.

Bensin udara yang diciptakannya adalah 91 oktan untuk pesawat Anson, C-47 untuk pesawat Dakota, 80 oktan untuk pesawat Stinson.

Tidak ada catatan lengkap mengenai masa kecil dan pendidikan yang ditempuh oleh kakek Aero Sutan Aswar yang merupakan juara dunia Jetski dan pejetski nomor satu dunia tahun 2016 tersebut.

Dikutip dari berbagai sumber, catatan pendidikan yang pernah dienyam Sutan Aswar adalah di Technische Hoogeschool (sekarang Institut Teknologi Bandung) sebelum dirinya bergabung dalam perjuangan kemerdekaan.

Dalam karirnya, Sutan Aswar pernah menjadi Anggota Hakim Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub). Selian itu beliau juga pernah diangkat menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat (MPR-DPR) dari fraksi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) tahun 1966-1976.

Sejarah mula penemuan bahan bakar atau bensin pesawat terbang di mulai pada 28 Desember 1947. Pada tanggal tersebut dikirim Tetra Ethyl Fluid (TEL) dari Yogyakarta ke Sumatera untuk pembuatan bensin udara. TEL (Tetra Ethyl Lead) adalah zat aditif yang ditambahkan ke dalam bensin untuk menaikkan bilangan oktan.

Komodor Udara saat itu, Halim Perdanakusuma menunjuk OMU-2 Sutan Aswar pada jawatan minyak di Jambi dan diperbantukan oleh SMU Mardjoeki.

Namun saat itu alat-alat untuk membuat bensin udara yang ada di Jambi sangat tidak memungkinkan untuk membuat bensin udara. Alat-alat yang minim dan sederhana yang dibuat oleh Jepang tidak sesuai dengan standar untuk menghasilkan bensin ringan sebagai dasar bensin udara.

Sutan Aswar bersama Mardjoeki kemudian memberanikan diri mengambil resiko dan bertanggung jawab untuk melangsungkan proses pembuatan bensin udara tersebut.

Hasil bensin udara yang diciptakan tersebut didapat pada akhir bulan Februari 1948, hasilnya banyak perubahan dalam fraksi bensin yang dilakukan oleh Sutan Aswar dan Mardjoeki namun belum memenuhi syarat-syarat bensin udara.

Pesawat yang pertama kali mencoba bensin udara yang diciptakan oleh Sutan Aswar adalah pesawat Anson pada Maret 1948 dan berhasil.

Sejak itu, mutu bensin udara tersebut terus disempurnakan oleh Sutan Aswar dan terus dipakai oleh perusahaan minyak di seluruh Indonesia. Hal ini berarti suatu prestasi yang besar artinya dalam usaha ke arah self help pada masa perjuangan.

Sumber