Inilah Kisah ‘Pemburu-Pemburu’ Sepatu di Padang

Inilah Kisah ‘Pemburu-Pemburu’ Sepatu di Padang
Di zaman kekinian mungkin jarang akan kita temui anak-anak penyemir sepatu. Namun pada periode 1990 hingga 2000 an di kota Padang anak-anak penyemir sepatu ini sangat mudah ditemui, khususnya di tempat-tempat keramaian.

Kabarantau.com – Di zaman kekinian mungkin jarang akan kita temui anak-anak penyemir sepatu. Namun pada periode 1990 hingga 2000 an di kota Padang anak-anak penyemir sepatu ini sangat mudah ditemui, khususnya di tempat-tempat keramaian.

Di periode 1990 an anak-anak penyemir sepatu sering dijumpai di sekitar terminal oplet, terminal lintas Andalas, Padang Theater, dan di depan sejumlah rumah makan dan restoran yang ada di kota Padang.

Namun wilayah 'perburuan sepatu' yang paling banyak diminati adalah kawasan Padang Theater. Di sana para konsumen datang dengan niat untuk menyemir sepatunya. Jadi anak-anak penyemir sepatu tidak usah repot-repot mencari pelanggan yang ingin membersihkan sepatunya.


Berdasarkan catatan Freek Colombijn dalam bukunya Paco Paco (Kota) Padang mengatakan anak-anak penyemir sepatu dan penjual rokok ketengan/asongan merupakan pekerjaan yang paling diminati karena tidak begitu membutuhkan tenaga yang besar pada
medio 1990 an. Penyemir sepatu ini didominasi oleh anak laki-laki sedangkan anak perempuan jarang atau bisa dikatakan tidak ada yang mau menjadi penyemir sepatu. Anak perempuan kebanyakan menjual kantong plastik atau barang sejenisnya.

Peralatan yang mereka gunakan anak-anak penyemir sepatu sangat sederhana terdiri dari kaleng, bros/gundar, kain lap, dan semir sepatu.

Hal tersebut dikarenakan, pada saat itu pendapatan anak-anak para penyemir sepatu bisa mencapai Rp2.000 perhari. Angka tersebut bisa dikatakan cukup besar dan cukup untuk membiayai kehidupan mereka sehari-hari di masa itu. Anak-anak penyemir sepatu ini memiliki ikatan atau hubungan emosional yang kuat. Hubungan ini membuat mereka kompak dalam menjalani kegiatan mereka sebagai tukang semir sepatu.

"Mereka sering bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil dan mengadakan peminjaman modal atau peralatan," tulis Freek Colombijn dalam bukunya.

Selain itu, anak-anak penyemir sepatu ini membagi wilayah kerja 'kekuasaan' mereka. Pihak lain dilarang masuk dalam kawasan kekuasaan tersebut, jika ada yang melanggar banyak kemungkinan yang akan terjadi seperti diusir atau diajak bertarung. Menurut catatannya, anak-anak penyemir dari Solok menguasai sejumlah lokasi strategis. Mereka kadang sering berkelahi untuk mempertahankan wilayah kerja mereka dari anak-anak dari kelompok atau wilayah lain.


Gerombolan anak pekerja semir sepatu mempertahankan wilayah kerja atau kekuasaan mereka terhadap pendatang baru dan anak-anak penyemir sepatu dari tempat lain. Jika ada yang ingin bergabung menjadi penyemir sepatu. Mula-mula mereka harus bergaul kemudian ikut menyemir dengan anggota yang lain meski tanpa harus dibayar.

Peraturan lain yang harus dipahami dan disepakati adalah harus bergaul dengan para senior, tidak boleh menganggu jika ada yang sedang melakukan transaksi dengan pelanggan dan tidak boleh mengambil upah yang murah atau berbeda dengan penyemir sepatu yang lain.

Jika hal ini tidak dipatuhi maka pendatang baru maka peralatan mereka akan diambil atau dihancurkan oleh rekan-rekan yang lain. Namun, anak-anak penyemir sepatu ini tidak juga luput dari ancaman kekerasan dan pemerasan. Mereka yang rata-rata masih berusia belasan menjadi 'korban' bagi remaja atau preman yang lebih besar dan tua umurnya.

"Mereka juga merupakan sasaran pemerasan para remaja preman atau yang dikenal dengan sebutan anak bola," lanjut tulisan Freek Colombijn. Anak-anak penyemir sepatu kerap kali diperas 'dikompas' Rp200-Rp500 per hari oleh para preman-preman tersebut. Menurutnya, anak-anak ini lebih suka membayar dari pada menjadi korban kekerasan. Meskipun mereka membayar, namun mereka tidak mendapatkan garansi perlindungan jika diganggu preman lain.

Anak-anak pekerja semir sepatu ini kurang memiliki pertahanan terhadap para preman remaja kedudukan mereka lebih informal dan kekuatan fisiknya juga kurang.