Ketika Orang-orang Minang Sempat Takut Memakai Nama Asli Daerah

Ketika Orang-orang Minang Sempat Takut Memakai Nama Asli Daerah
Ketika Orang-orang Minang Sempat Takut Memakai Nama Asli Daerah

Kabarantau.com  - Tidak ada nama yang lahir dari ruang kosong. Kepahitan, resesi, krisis, hingga perasaan bahagia mengilhami munculnya nama yang disematkan kepada jabang bayi.

Di Indonesia, dinamika politik memberi pengaruh penting dalam pemilihan nama-nama itu.

Marilah kita berangkat dari peristiwa Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia. Kala itu, terjadi hubungan yang tidak harmonis antara pemerintah pusat dan daerah sehingga Letnan Kolonel Ahmad Husein memproklamasikan berdirinya PRRI pada 15 Februari 1958.

Itu setelah orang-orang sipil didukung militer bertemu di Sungai Dareh, Sumatra Barat. Syafruddin Prawiranegara ditunjuk sebagai perdana menteri. Pemerintah pusat kemudian menumpas gerakan PRRI lewat Operasi 17 Agustus yang dipimpin Letnan Kolonel Ahmad Yani.

Setelah peristiwa tersebut, orang-orang Sumatera Barat seolah takut membuka diri sebagai orang Minang karena khawatir dikait-kaitkan dengan PRRI. Mereka memikul beban sejarah.

Untuk memutus beban itu, mereka tidak lagi memberi nama anak mereka dengan menggunakan bahasa Arab yang sebelumnya identik dengan orang Minang.

Mereka juga menghilangkan nama-nama lokal, seperti Piliang, Koto, dan Chaniago. Sebagai penggantinya, muncul nama-nama serapan dari Eropa, Latin, dan Rusia.

Maka, pada tahun-tahun setelah peristiwa PRRI itu, banyak orang Minang bernama sejenis Adilov, Azinov, Roberto, Hendri, Netty, Isabella, Maria, atau Kenedi.

Nama-nama itu kadang dibentuk berdasarkan bulan lahir, peristiwa, meniru orang ternama, atau penggabungan nama orangtua.

Misalnya muncul orang Minang bernama Philips Jusario Vermonte atau Imelda Maidir. Ada juga Donal Fariz yang kini aktif di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum.

"Alasannya sederhana. Nama Donal itu belum pasaran. Jadi, beliau (ayah) menghindari nama yang sudah terlalu umum di Minang. Sementara Fariz merupakan kombinasi nama bapak dan ibu saya," kata Donal. Yang dimaksud penggabungan nama itu hanya suku kata "Riz" dari nama ibunya, Rita, dan ayahnya, Zamrinaldi.

Pola perubahan nama itu juga dapat dibaca dari Indra J Piliang (44) bersaudara. Ahmad Busra (48), Zainul Bahri (46), Yunas Setiawan (42), Mardiyah Hayati (40), Benny Perwira (38), dan Akbar Fitriansyah (35).

Tak ada satu pun yang memakai nama Piliang, salah satu nama suku di Minang. Selain itu, juga ada suku Koto dan Chaniago.

Indra sendiri sebelumnya tidak memakai Piliang hingga dia kuliah di Universitas Indonesia dan bertemu pakar sejarah Ong Hok Ham yang menduga Indra orang Jawa. "Saya kemudian disuruh memakai nama Piliang sebagai identitas Minang."

Menjelang Orde Baru runtuh, ketakutan sejarah meluntur sehingga orang Minang semakin berani menunjukkan dirinya meskipun tidak terang-terangan.

Ini misalnya terlihat dari cara mereka menamai anak-anaknya, seperti Adespil (Anak Desa Piliang) dan Andescha (Anak Desa Chaniago). Di berbagai media sosial, nama-nama itu bertebaran, seperti Jaill Andescha, Rizki Putra Andescha, dan Riyan Andespil. Ada juga Alan alias Anak Lembah Anai.

Meski begitu, ketakutan tersebut tidak benar-benar luntur meskipun orde berganti dari Orde Lama ke Orde Baru.

Ketika Indra bersikap kritis terhadap pemerintah lewat tulisan atau forum-forum diskusi, dirinya sempat didatangi orang Minang berpangkat mayor jenderal. Dia berpesan agar Indra tidak terlalu kritis karena dia orang Minang yang memikul beban sejarah PRRI.

"Kekhawatiran seperti itu sangat mengakar pada masa Orde Baru," kata Indra. (MHF/EKI/DRA)