Urang Awak Jadi Pengajar Pertama Indonesia di Al-Azhar Mesir

Urang Awak Jadi Pengajar Pertama Indonesia di Al-Azhar Mesir

Kabarantau.com - Orang Minangkabau (urang awak) menjadi orang Indonesia pertama yang mengajar di Al-Azhar. Ia adalah Abdul Gaffar Ruskhan, peneliti di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa). Ia mengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di universitas tertua di dunia dan terbesar di Timur Tengah itu.

"Pak Abdul Gaffar ditugaskan mengajar BIPA di Mesir, khususnya untuk Universitas Al-Azhar dan akan menjadi pengajar pertama di Universitas Al-Azhar," ujar Duta Besar RI untuk Mesir, Helmy Fauzy, saat membuka secara resmi pengajaran BIPA di Auditorium Fakultas Bahasa dan Terjemah, Universitas Al-Azhar, Kairo, Senin (5/12).

Pernyataan Dubes tersebut diperkuat oleh Cecep Taufiqurrahman, seorang staf KBRI Mesir.

"Pak Abdul Gaffar adalah orang Indonesia pertama yang mengajar di Universitas Al-Azhar. Selama ini belum pernah ada orang Indonesia yang mengajar di sini," ujar cecep usai pembukaan pengajaran BIPA.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Cecep, Al-Azhar tidak pernah menggunakan tenaga pengajar asing, bahkan pengajar dari universitas yang lain, kecuali orang Mesir dari Al-Azhar.

"Ini sejarah baru bagi Indonesia dan Pak Abdul Gaffar," ucap Cecep.

Cecep menginformasikan, Abdul Gaffar menjadi pengajar BIPA di Mesir sejak 1 Agustus bersama 3 pengajar lain dari Indonesia. Mereka bertugas selama 4 bulan sampai dengan 30 November 2016. Namun, Abdul Gaffar diperpanjang masa tugasnya oleh Badan Bahasa atas permintaan Atdikbud RI di Mesir sampai dengan 31 Desember tahun ini untuk mengajar di Al-Azhar.

Sebelumnya, Abdul Gaffar mengajar di Puskin Kairo dan Pusat Studi Indonesia, Universitas Kanal Suez, Ismailia. Untuk awal tahun depan, KBRI akan berkirim surat ke Badan Bahasa untuk meminta penugasan kembali Abdul Gaffar ke Al-Azhar.

"Syukurlah, Pak Gaffar, kalau dapek dipapanjang tahun muko, buliah batamu juo awak

di siko, " ujar Atase Perdagangan RI di Mesir, Burman Rahman. "Lai sanang pulo hati urang awak bahwa Pak Gaffar bisa jadi pengajar pertamo di Al-Azhar," kata Burman yang merupakan orang Banuhampu, Bukittinggi itu.

Sedikit informasi, Abdul Gaffar dilahirkan di Gadut, Bukittinggi. Ia merupakan alumni Parabek, IAIN Padang-Jakarta, dan Universitas Indonesia pada 1995. Sejauh ini, ia telah mengabdi di Badan Bahasa selama 37 tahun.

Pengajaran BIPA

Helmy Fauzy menjelaskan, bahasa Indonesia saat ini sudah mendunia sehingga diajarkan di banyak negara. Karena itu, dibukanya pengajaran BIPA di Al-Azhar akan menjadi strategis dalam jalinan kerja sama kependidikan dan pengembangan Islam melalui karya-karya besar Al-Azhar.

Terlaksananya pengajaran BIPA di Universitas Al-Azhar atas kerja sama KBRI Mesir, dalam hal ini Atase Pendidikan dan Kebudayaan, dengan Universitas Al-Azhar. Tercatat sekitar 108 pembelajar Mesir yang akan mengikuti pengajaran BIPA yang terdiri atas dosen, pegawai, dan mahasiswa Al-Azhar.

"Kedatangan pengajar BIPA dari Indonesia itu membawa angin segar bagi pengembangan bahasa Indonesia di Mesir," ujar Direktur Puskin. Adanya komunikasi yang intensif dilakukan oleh Atdikbud, Direktur Puskin, dan Abdul Gaffar Ruskhan mempercepat peresmian pengajar BIPA di Al-Azhar. Bahkan, pada awal tahun depan akan dibuka juga pengajaran BIPA di Universitas Banha dan Universitas Kairo.

"Pengajaran bahasa Indonesia telah dilakukan oleh 140 lembaga, baik di universitas, pusat studi, maupun di KBRI sendiri yang tersebar di lebih 36 negara seluruh dunia," kata Usman Syihab, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Mesir.

"BIPA di Universitas Al-Azhar, insyaallah juga akan dibuka di Universitas Banha dan Universitas Kairo awal tahun depan, akan memperkuat keberadaan bahasa Indonesia di mancanegara. Bahasa Indonesia digunakan oleh hampir 400 juta jiwa, bukan saja oleh bangsa Indonesia yang berpenduduk 260 juta jiwa melainkan juga digunakan di kawasan Asia Tenggara, seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand Selatan, Filipina Selatan, Timor Leste, dan Australia. Pada akhirnya, bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional yang sejajar dengan bahasa-bahasa besar lain," tutur Usman Syihab.

Pengajaran BIPA di Al-Azhar pada awal pembukaannya masih bersifat kursus yang dilaksanakan di Fakultas Bahasa dan Terjemah. Namun, setahun atau dua tahun ke depan ada keinginan pihak fakultas untuk membuka Jurusan Bahasa Indonesia.

"Melihat minat mahasiswa untuk belajar bahasa Indonesia begitu besar, kami yakin setahun atau dua tahun lagi dapat dibuka Jurusan Bahasa Indonesia di Fakultas Bahasa dan Terjemah," ujar Wakil Dekan Fakultas Bahasa dan Terjemah Universitas Al-Azhar, Yusuf Amir.

"Pihak Al-Azhar berkepentingan untuk mencetak sarjana yang mahir berbahasa Indonesia agar dapat melaksanakan misi Al-Azhar, yakni menyebarkan Islam ke semua negara melalui buku-buku karya penulis Al-Azhar dengan bahasa negara sasaran, khususnya dalam bahasa Indonesia," kata Yusuf Amir. (h/rel/dib).

Sumber