Inilah Sosok Ulama Minang Konseptor Sila Pertama Pancasila

Inilah Sosok Ulama Minang Konseptor Sila Pertama Pancasila

Kabarantau.com - Presiden pertama Indonesia Sukarno pernah mengajukan lima prinsip sebagai dasar negara Indonesia, yaitu: Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan sosial, dan Ketuhanan.

Konsep Ketuhanan yang ditempatkan pada prinsip kelima oleh Bung Karno, pada akhirnya menjadi sila pertama.

Lalu dari mana ide Ketuhanan yang menjadi tawaran Bung Karno? Adalah Syekh Abbas Abddulah yang memberi wejangan pada Bung Karno. Kala itu, ia berkunjung ke Perguruan Darul Funun di Puncakbakuang, Padang Japang.`

"Bung Karno berkunjung ke madrasah Darul Funun, dengan tujuan meminta saran kepada Syeikh Abbas Abdullah tentang apa sebaiknya bagi negara Indonesia. Syeikh Abbas menyarankan Negara yang akan didirikan kelak haruslah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa," tulis Muslim Syam dalam buku "Riwayat Hidup dan Perjuangan 20 Ulama Besar Sumatera Barat", terbitan Islamic Centre Sumatera Barat tahun 1981.

Darul Funun merupakan sebuah madrasah yang cukup berpengaruh. Hal ini dikarenakan kebesaran dua orang syeikhnya yakni Syeikh Abbas Padang Japang dan Syekh Mustafa Abdullah.

Syekh Abbas dan Syekh Mustafa, keduanya adalah murid ulama Minangkabau terkemuka di Mekkah, Ahmad Khatib Al-Minangkabawi.

Ia juga kawan dekat Syekh Abdul Karim Amarullah atau Inyiak Rasul.

Ulama yang dikenal dengan sebutan Buya (Syeikh) Abbas Padang Jepang menyatakan, kalau hal ini diabaikan, maka revolusi tidak akan membawa hasil yang diharapkan.

Syekh Abbas sendiri kala itu, bukan sekedar ulama, melainkan sebagai Panglima Jihad Sumatera Tengah. Dikatakannya, perjumpaan Sukarno dengan Syekh Abbas cuma sebentar. Datang sekitar jam 13.00 WIB, lalu balik lagi sekitar sorenya.

Bung Karno sendiri berada di Padang selama lima bulan, Februari 1942 hingga Juli 1942.

Sumber