Inilah Surau Berusia 500 Tahun, Tonggak Islam di Ranah Minang

Inilah Surau Berusia 500 Tahun, Tonggak Islam di Ranah Minang

Kabarantau.com - Inilah Masjid Tuo Kayu Jao, masjid tertua di Ranah Minang. Umurnya 400 tahun lebih, tapi keasliannya tetap terjaga. Begitu bersejarah dan khidmat.

Sayup sayup terdengar suara mengaji dari kejauhan pada hari Jumat siang itu. Petanda salat Jumat akan segera dimulai. Sebuah masjid terlihat di bawah sebuah lembah itu, saat datang ke Jorong Kayu Jao, Kanagarian Batang Baruih, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatra Barat

Ternyata masjid tersebut bernama Masjid Tuo Kayu Jao, masyarakat sekitar menyebutnya dengan Masjid Tuo. Masjid Tuo ini terletak di lembah yang memiliki landskep dan kontur wilayah bebukitan berhawa sejuk dengan perkebunan teh, pesawahan dan ladang sayuran masyarakat yang mengelilinginya. Berbeda bila dibandingkan dengan masjid lain yang ada di Sumatera Barat yang biasanya terletak di tengah kota atau di pinggir jalan.

Panorama masjid yang indah dilihat dari ketinggian membuat Masjid Tuo ini kian eksotik. Masjid Tuo dulunya didirikan untuk pusat kegiatan tiga anak nagari yaitu Lubuk Selasih, Kayu Aro dan termasuk nagari tempat berdirinya masjid ini yakni Kayu Jao.

Pemberian mana masjid ini tidak lain karena umur masjid ini yang lebih dari 400 tahun. Menurut cerita yang dituliskan Zurnaidi dalam tulisannya Sejarah Masjid Tuo, masjid ini diperkirakan berdiri tahun 1567 M. Kabarnya masuk kedalam masjid tertua di Indonesia dan di Ranah Minang.

Dulunya masjid ini tidak hanya digunakan keagamaan semata tapi juga untuk kegiatan musyawarah memecahkan masalah dan merencanakan pembangunan nagari, tempat berkumpul pemuka-pemuka masyarakat tiga nagari tersebut. Tidak hanya itu, bila ada anak nagari yang tidak menjaga kelestraian masjid maka tidak dibenarkan memakai masjid itu lagi.

Terdapat dua orang yang berjasa dalam pembangunan masjid ini yaitu Angku Musaur (atau dulu panggilannya mashur Termarshur) dan Angku Labai. Angku Mushur dulunya imam di masjid ini, ia memiliki suara yang merdu, bacaannya tepat dan benar serta pandai berirama saat menjadi imam ketika shalat berjamaah sehingga masjid ini ramai diikuti makmumnya. Angku ini meninggal ketika shalat Jumat.

Selain itu, Angku Labai yang menjadi bilal di masjid ini memiliki kelebihan yang mungkin tidak bisa dipercaya dengan logika manusia biasa. Angku Labai bisa berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

Menurutnya, Pendiri masjid tersebut dimakamkan tidak jauh dari areal Masjid Tuo. Angku musaur dimakamkan di muka mihrab masjid, sedangkan makam Angku Labai di seberang masjid dekat jirek atau langgar tempat ia salat di luar salatnya di masjid.

Masjid yang menjadi saksi nyata perkembangan Islam di Solok ini, sepenuhnya terbuat dari kayu yang setiap bagian sambungannya hanya dipasak oleh kayu. Bagian dinding Masjid Tuo dihiasi ornamen-ornamen ukiran yang khas.

Dulunya pembangunan Masjid Tuo tidak menggunakan paku hanya di pasak saja. Namum melihat perkembangannya dan kondisi masjid saat itu, atas usulan BP3 Batusangkar waktu pemugaran Masjid Tuo beberapa tahun lalu, pola bangunan lama tersebut digantikan dengan memaku kayu-kayunya. Tapi untuk bangunan induknya masih dipertahankan dengan tidak memakai paku hanya dinding, plafom dan lantainya saja.

Masjid Tuo ini beratapkan ijuk yang merupakan ciri khas arsitektur dari bangun rumah adat Minangkabau yaitu Rumah Gadang. Atapnya yang berbahan ijuk ini memiliki ketebalan sekitar 15 cm namun kini telah ditumbuhi lumut. Ditambah lagi pada bagian mihrabnya (bagian dari bangunan masjid/mushalla yang digunakan sebagai tempat imam memimpin salat berjamaah) terdapat bangunan bergonjong menambah kental nuansa adat Minangkabau di Masjid Tuo ini.

Memasuki masjid disambut 9 tiang utama yang menopang masjid berbentuk limas ini dari jumlah keseluruhan tiangnya yang terdapat 24 buah. Jumlah tiang tersebut melambangkan enam suku yang masing-masingnya terdiri dari ampek jinih (empat unsur pemerintahan adat ninik mamak) sehingga jumlahnya 24 bagian.

Uniknya, Masjid Tuo ini memilik mimbar yang telah ada sejak dulunya meski berangsur-angsur lapuk di bagian sana-sininya, begitu juga bedug dan sebuah mihrab yang masih utuh diperkirakan usianya sama dengan masjid.

Melihat Masjid Tuo ini arsitektur atapnya persis seperti yang dimiliki Masjid Raya Demak dan Masjid Raya Banten yang atapnya juga bersusun. Namun dari beberapa segi, Masjid Tuo memiliki beberapa keunggulan. Terutama dari segi filosofis yang terkandung pada masjid tersebut.

Kuatnya pengaruh syariat Islam di Masjid Tuo tergambar dari atap limas Masjid Tuo terdiri dari tiga tingkatan yang menggambarkan Iman, Khatib dan Bilal. Selain itu juga terdapat 13 buah jendela yang terpasang pada masjid ini mengisyaratkan rukun salat. Begitu juga anak tangga yang berjumlah 5 buah melambangkan rukun Islam. Bahkan 2 puncak atau gobahnya menunjukan Allah SWT dan Nabi Muhammad Saw.

Masjid tuo ini merupakan salah satu cagar budaya di Solok yang diawasi oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batusangkar. Masjid Tuo sudah beberapa kali dilakukan pemugarannya, contohnya saja pemugaran tonggak tengah utama masjid pada 26 Juni 1988 dan juga beberapa waktu lalu juga telah diganti atap ijuknya yang telah lapuk di makan usia.

Pemugaran yang dilakukan oleh BP3 Batusangkar tidaklah meninggalkan arsitektur aslinya malah berusaha memunjulkan nilai eksotika dari masjid. Masjid Tuo diganti warnanya menjadi coklat kehitaman yang dulunya berwarna putih agar lebih klasik dan kuno.

Masyarakat sekitar pun selalu bergotong royong membersihkan lingkungan masjid secara bergantian setiap satu bulan. Anak surau (sebutan anak-anak dan remaja masjid) juga tidak ketinggalan menjaga kelestrian masjid dengan membersihkannya setiap hari Jumat dan Minggu.

Memasuki areal masjid akan disambut oleh bebatuan besar ibarat prasasti dan warna warni bunga bunga yang terhampar diberbagai sudut halaman masjid. Gemericik air sungai yang ada di muka masjid pun menambah suasana khusuk ketika salat di sana.

Untuk menuju ke lokasi masjid tidaklah begitu sulit sekitar 500 m dari jalan utama menuju Alahan Panjang atau dari Kota Padang bisa ditempuh kurang lebih 2 jam dengan kendaraan roda empat. Selain itu, infastruksturnya sudah di beton sehingga tidak menyulitkan pengunjung untuk bisa menikmati sajian wisata religi yang memukau.

Masyarakat sekitar masih mengunakan masjid ini untuk melaksanakan aktivitas ibadahnya seperti salat lima waktu, ramadhan dan belajar mengaji anak-anak. Bahkan rencananya akan digunakan untuk salat hari raya kebesaran Islam. Terakhir ke mengunjungi dan beribadah dimasjid tuo ini halamannya masih tanah, sekarang sudah dibeton.

Meski masjid tuo ini beberapa kali dikunjungi wisatawan bahkan pernah diliput media televisi nasional maupun daerah namun pemerintah setempat kurang giat mempromosikan Masjid Tuo ini.

Padahal, jika dikelola dengan baik akan mengundang wisatawan yang mengunjungi daerah Jorong Kayu Jao dan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat yang umumnya berladang. Tidak ada salahnya jika berkunjung ke Solok, singgah sejenak ke Masjid Tuo yang menyimpan sejuta cerita ini.

Sumber