Tamar Djaya, Tokoh Perintis Kemerdekaan Asal Minang Yang Terlupakan Sejarah

Tamar Djaya, Tokoh Perintis Kemerdekaan Asal Minang Yang Terlupakan Sejarah

Kabarantau.com - Minangkabau banyak melahirkan sejumlah tokoh-tokoh besar pada republik ini, nama mereka diabadikan dalam buku-buku sejarah dan pelajaran Indonesia. Namun banyak juga yang luput dan sedikit terlupakan.

Genereasi muda Minang mungkin akan masih sangat akrab dengan nama M. Hatta, Sutan Sjahrir, Hamka, M Yamin dan sederet tokoh yang namanya banyak diabadikan dalam buku sejarah atau nama jalan di republik ini, namun apakah ada yang tahu dan mengenal tentang Tamar Djaya.

Dosen dan juga peneliti di Universitas Leiden, Suryadi Sunuri menuliskan bahwa Tamar Djaya merupakn wartawan dan penulis hebat dimasanya. Beliau mulai masuk dalam dunia tulis menulis sejak 1930. Tulisannya diterbitkan sejumlah harian dan mingguan yang beredar antara tahun 1940 hingga 1970-an.

"Tulisannya bak buah rambai dilambuik an diberbagai harian dan berkala," begitu tulis Suryadi dalam blog pribadinya.

Tamar Djaja sudah menulis hingga 155 buah buku. Kualitas tulisan dan karya-karyanya setanding dan sebanding dengan tulisan-tulisan tokoh-tokoh yang terkenal dan dikenal saat itu, seperti Abdul Rivai, M. Amir, Adi Negoro, dan Hamka.

Karya dan tulisan-tulisan Tamar Djaya meliputi tulisan tentang politik, tulisan Islam, karya fiksi, Otobiografi sejumlah pemimpin/intelektual Indonesia dan tulisan yang bersifat umum mengenai budaya dan kehidupan keluarga.

Suryadi juga menuliskan jika, Tamar menulis tentang tokoh-tokoh besar Indonesia di awal tahun 1950an dan 1960-an (2 jilid). Ia juga menulis riwayat hidup dan kiprah politik banyak tokoh lain: tentang A. Hassan, M. Natsir, Bung Tomo, Rohana Kudus, Trio komunis Indonesia (Tan Malaka, Semaoen dan Alimin), Abang Betawi, Sukarno dan Hatta, ketua Masjumi Dr. Soekiman Wirjosandjojo, dll.

Dalam buku Sudarmoko juga dituliskan bahwa Tamar Djaja pernah memimpin majalah HPII Pahlawan Muda dan majalah PERMI Keris di Bukittinggi.

Untuk karya-karya fiksi Tamar Djaja juga merupakan tokoh yang sangat produktif. Tercatat sekitar selusin karya yang telah dihasilkannya selam hidupnya, sebut saja misalnya Journalist Alamsjah, Sebabnja saja bahagia…!, Si Bachil, Dari Desa ke Kota, Samora Gadis Toba, Iboe jang Loetjoe, dan Tersesat, Berontak!!!: Menentoekan Nasib yang terbit tahun 1940an dan 1950an.

Tamar Djaya juga seorang tokoh pergerakan. Dia aktif dalam gerakan pemuda dan partai politik, antara lain Himpunan Pemuda Islam Indonesia (HPII), partai politik Persatuan Muslim Indonesia (PERMI), dan menjadi anggota pengurus pusat kedua organisasi tersebut.

Tahun 1950 memimpin majalah Kursus Politik bersama M. Dalyono di Jakarta. Tahun 1950-1953 memimpin majalah Suara Partai Masjumi. Tahun 1953-1954 memimpin majalah Mimbar Agama dan majalah Penuntun, keduanya diterbitkan oleh Departemen Agama RI. Tahun 1957 memimpin majalah Daulah Islamiyah dan menjadi ketua umum Himpunan Pengarang Islam.

Tahun 1968 dianugerahi oleh Pemerintah sebagai Perintis Kemerdekaan. Cukup jelas lewat karier dan kiprah literasinya di dunia kepenulisan bahwa Tamar Djaja adalah tipikal intelektual Minangkabau yang sesungguhnya: islami, nasionalis, sekaligus kosmopolit.

Tidak banyak informasi yang bisa digali dari tokoh Minang Tamar Djaya. Tamar Djaya lahir di Sungai Jariang, Bukittinggi, pada 12 Maret 1913 dan meninggal pada tahun 1984. Dia menempuh dan mengeyam pendidikan di kota tersebut hingga selesai.

Sumber