Jangan Heran, Monyet Punya Profesi dan Juga Lulusan Sekolah di Padang Pariaman

Jangan Heran, Monyet Punya Profesi dan Juga Lulusan Sekolah di Padang Pariaman

Kabarantau.com - Siapa bilang hanya manusia saja yang butuh pendidikan dan bersekolah ? Anggapan itu tentu saja salah, karena di daerah ini, para "Beruk" sejenis monyet yang berekor bulat lebar dimasukkan ke sekolahnya untuk di beri pendidikkan dan latihan untuk menjadi pemanjat pohon kelapa yang mahir.

Di Kabupaten Padang Pariaman ada hal unik yang menjadi ciri khasnya, dimana di daerah ini para beruk, sebutan mereka untuk monyet jenis ini, dipekerjakan sebagai pekerja pemanjat batang pohon kelapa. Daerah ini merupakan daerah yang dikenal sebagai penghasil kelapa terbesar di Sumatera Barat dengan pohon-pohon kelapanya yang menjulang tinggi sekitar 30-40 meter tingginya.

Akibat tingginya pohon kelapa didaerah ini, maka masyarakat setempat melatih beruk-beruk untuk dipekerjakan sebagai tenaga pemetik kelapa. Ada tempat sekolah dan guru khusus yang mengajari hewan liar ini.

Satwa liar yang ditangkap dan didatangkan dari daerah Pasaman, dijual di pasar-pasar ternak. Rata-rata harga beruk liar ini dijual seharga 100 ribu untuk yang jantan dan 250 ribu untuk betina. Beruk betina lebih mahal karena lebih aman, lebih patuh, tidak agresif dan tidak suka menggigit seperti halnya yang jantan.

Beruk-beruk liar ini kemudian akan di beli oleh para pelatih beruk untuk "disekolahkan". Beruk-beruk ini akan dilatih untuk mematuhi dan memahami perintah manusia untuk memanjat pohon, memilih kelapa muda atau yang tua, menjatuhkan kelapa dan mematuhi kode-kode lain dari majikannya yang nanti akan didengarnya saat bekerja.

Perlu waktu 1 hingga 3 bulan untuk melatih beruk pandai memetik kelapa, bahkan ada juga beruk yang hingga 1 tahun belum mahir juga memahami perintah. Seperti manusia, satwa ini ada juga yang pintar ada juga yang bodohnya.

Selanjutnya si Beruk yang sudah mahir dan terlatih ini akan dijual lagi kepada "Si Tukang Beruk", sebutan untuk orang yang berkeliling kampung menawarkan jasanya untuk memetik kelapa milik penduduk. Beruk yang sudah pintar ini bisa terjual hingga harga 1 Juta Rupiah.

Bila beruk ini sudah terbeli dan punya majikan baru, maka ia bisa memulai profesi barunya sebagai pemanjat kelapa yang berkeliling kampung bersama majikan. Dengan tali yang terlilit di leher, biasanya sang beruk akan berboncengan dengan sepeda di belakang sang majikan, masuk kampung ke luar kampung menawarkan jasanya.

Bila beruntung, mereka akan mendapatkan orderan untuk memetik kelapa. Biasanya upah berdasarkan kesepakatan awal, ada yang dibayar dengan uang misalnya 30-40 ribu untuk setiap 100 butir kelapa, atau bisa juga upahnya berupa 10 butir kelapa untuk setiap 100 butir kelapa yang diturunkan.

Bila dapat orderan banyak, maka si beruk dan majikannya akan pulang dengan gembira, karena sang majikkan dapat upah banyak dan pasti tak akan lupa untuk memberikan makanan lezat untuk sang beruk sesampai di rumah nantinya.

Sumber