Bikin Baper, Kisah Asmara dan Mahar Nikah Bung Hatta

Bikin Baper, Kisah Asmara dan Mahar Nikah Bung Hatta

Kabarantau.com - Tak banyak yang dapat digali dari kisah asmara tokoh proklamator Indonesia Mohammad Hatta. Kisah asmara sunyi tak segegap gempita cerita dan sejarah pergorbanannya dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini.

Seperti diketahui, Bung Hatta menikah dengan Rahmi Rachim. Saat menikah usia Bung Hatta adalah 43 tahun, sedangkan Rahmi Rachim berusia 19 tahun kala itu. Mereka menikah setelah tiga bulan Indonesia merdeka, tepatnya 18 November 1945.

Bung Hatta terlambat menikah karena janji yang dia pegang dengan teguh, yakni tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka dan janji tersebut Bung Hatta tepati.

Kisah cinta Bung Hatta tak seperti kisah romansa di dalam novel-novel karya pujangga lama yang penuh lika-liku, alur, dan plot, meski pun begitu kisahnya tetap indah untuk dikenang. Bung Hatta orang yang lurus dan tidak suka berbelit-belit untuk urusan asmara.

Dilansir dari berbagai sumber, kisah asmara Bung Hatta dimulai saat jamuan makan malam di rumah pengacara Mr. Sartono di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur pada tahun 1943. Acara ini dalam rangka syukuran kepulangan Bung Karno dari masa pembuangannya di Bengkulu.

Bung Hatta juga diundang dalam kegiatan tersebut. Selain itu, Mr Sartono juga mengundang keluarga Ny. S.S.A. Rachim beserta dua anak gadisnya, Rahmi Rachim (17) dan Raharty (14).

Bung Karno memiliki peran yang sangat vital dalam hubungan antara Bung Hatta dan Rahmi Rachim. Bung Karno yang merupakan sahabat dekat Bung Hatta menjadi mak comblang dalam hubungan tersebut.

Dalam kesempatan itu, Bung Karno menanyakan kepada Nyonya Rachim siapakan wanita paling cantik di Bandung waktu itu. Nyonya Rachim yang bingung dengan pertanyaan tersebut langsung menyebutkan sejumlah nama namun dia tidak turut serta menyebutkan nama anak gadisnya.

Namun di malam itu belum ada kesepakatan mengenai wanita yang dianggap cocok untuk untuk dinikahkan dengan Bung Hatta. Pembicaraan pun hanya sampai di situ hingga Bung Karno dan Hatta kembali ke Jakarta.

Bung Karno pernah menanyakan kepada Bung Hatta tentang tipikal wanita idamannya. Jawaban Bung Hatta waktu itu (sebelum Indonesia merdeka) adalah dirinya tidak ingin beristri hingga Indonesia merdeka.

Tahun 1945 tepatnya setelah Indonesia merdeka, Bung Hatta mengatakan kepada Bung Karno bahwa dirinya sudah siap menikah.

Bung Karno girang bukan main. Dia pun bergegas mencarikan wanita yang cocok untuk sahabat karibnya tersebut. Pertanyaan beberapa tahun sebelumnya pun diulang kembali.

Bung Karno kembali mempertanyakan ciri-ciri atau tipikal gadis yang ingin dinikahi untuk menjadi istrinya. Tanpa ragu Bung Hatta menyebutkan bahwa gadis pernah bertemu dengan seseorang yang dia suka di sebuah acara. Dan Bung karno ada dalam acara tersebut.

Ketika ditanya siapa nama gadis tersebut, Bung Hatta menyatakan bahwa dia tidak pernah kenalan, tidak pernah bicara hingga tidak mengetahui siapa nama gadis di acara tersebut yang disukainya tersebut.

Hal itu bukanlah hal yang sulit bagi Bung Karno untuk mencari tahu siapa gerangan gadis yang telah mencuri perhatian sahabatnya, Bung Hatta.

Akhirnya Bung Karno pun mencari informasi informasi mengenai nama wanita tersebut. Entah bagaimana caranya, sampai akhirnya beliau bisa menyimpulkan bahwa gadis yang disukai oleh Bung Hatta adalah putri dari Ny S.S.A. Rachim yaitu Rahmi Rachim.

Bung Karno pun akhirnya datang bersama dokter Soeharto ke rumah Nyonya Rachim. Dia pun mengutarakan niatnya datang dan melamar Rahmi Rachim untuk Bung Hatta. Lamaran itu pun akhirnya disampaikan sang ibu kepada sang anak.

Rahmi awalnya sempat ragu mengingat usia mereka yang terpaut jauh. Bahkan sebelumnya, Rahmi memanggil Bung Hatta dan Bung Karno dengan panggilan om. Bung Karno pun meyakinkan Rahmi bahwa Bung Hatta adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Akhirnya lamaran tersebut pun diterima.

Akhirnya tanpa menjalani proses pacaran atau pendekatan, pada bulan November 1945 atau 3 bulan setelah kemerdekaan Bung Hatta akhirnya menikahi Rahmi Rachim. Mereka menikah di Mega Mendung, Puncak, Jawa Barat.

Mungkin banyak yang berpikiran, mahar yang diberikan oleh Bung Hatta yang notabenenya adalah wakil Presiden saat itu adalah harta yang banyak dengan harga yang mahal, tapi ternyata tidak.

Dalam pernikahan tersebut, Bung Hatta memberikan mahar nikah kepada Rahmi Rachim berupa buku yang ia tulis sendiri dengan judul "Alam Pikiran Yunani". Buku itu ditulis Hatta saat dibuang di Digul pada 1934.

Buku tersebut ditulis Bung Hatta saat menghadapi masa-masa sulit dalam masa pergerakan. Dan Bung Hatta ingin menghadiahkan buku pada wanita yang kelak akan menjadi sahabat hidupnya hingga akhir hayatnya.

Hatta dan Rachmi hidup bahagia hingga terpisah ajal, dan mereka dikaruniai tiga orang anak, yang semuanya telah tumbuh menjadi orang-orang yang juga luar biasa.

Kisah cinta Bung Hatta dengan Rachmi memang dimulai dari angka nol. Keduanya belajar untuk membiarkan benih-benih cinta tumbuh di antara mereka.

Kisah mereka menjadi sebuah pandangan tersendiri bagi kita, bagaimana terkadang kepentingan negara harus didahulukan ketimbang keluarga. Memang benar kata pepatah, di balik lelaki hebat pasti selalu ada wanita hebat yang ikut mendampinginya.

Sumber