Mengenang Pahlawan Sumatera Barat yang Tewas Akibat Siasat Licik Belanda, Siapa Dia?

Mengenang Pahlawan Sumatera Barat yang Tewas Akibat Siasat Licik Belanda, Siapa Dia?

Kabarantau.com - Sumatera Barat banyak melahirkan nama-nama pejuang kemerdekaan yang memiliki peranan yang sangat penting bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dan hari ini 19 Juli adalah hari yang bersejarah dimana salah satu tokoh perjuangan kota Padang harus meregang nyawa akibat siasat licik Belanda.

Salah satu pejuang kemerdekaan Indonesia asal kota Padang, Sumatera Barat adalah Bagindo Aziz Chan. Dalam sejarah tokoh-tokoh perjuangan Indonesia, Bagindo Aziz Chan juga pernah menjabat sebagai walikota ke 2 di kota Padang.

Bagindo Aziz Chan ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2005. Beliau juga menerima penghargaan tertinggi di Indonesia yani gelar Bintang Mahaputra Adiprana.

Bagindo Aziz Chan keturunan dari Bagindo Montok dan Djamilah. Beliau dilahirkan di Alang Laweh Padang, pada 30 September 1910 dan wafat pada 19 Juli 1947.

Dalam sejarahnya, Bagindo Aziz Chan pernah menempuh pendidikan di HIS di Padang. Lalu melanjutkan pendidikan di MULO di Surabaya, dan AMS di Batavia. Tamat dari AMS, Aziz Chan muda juga sempat mengenyam pendidikan di Rechtshoogeschool te Batavia (RHS) selama 2 tahun.

Beliau adalah tokoh pergerakan yang terkenal tanpa rasa takut dan tak pernah mengenal kata menyerah. Aziz Chan aktif di banyak organisasi pergerakan dan hal ini menjadi momok yang menakutkan bagi Belanda. Selain itu, Pemikiran-pemikiran Bagindo Azizchan banyak dipengaruhi oleh Muhammad Roem dan Haji Agus Salim, dua tokoh perjuangan yang juga berasal dari Sumatera Barat.

Bagindo Aziz Chan merupakan orang yang pintar. Ilmu pengetahuan yang dimilikinya luas, selain itu dia juga sosok yang memiliki keimanan dan ketaqwaan yang tinggi.

Dia menjadi pemimpin yang berani, berani dan tidak kenal kompromi menghadapi Sekutu dan NICA. Perjuanga bagi bangsa Indonesai di kota Padang banyak dilakukan melalui perundingan-perundingan, surat-surat diplomatis dan juga melalui media cetak surat kabar perjuangan yang terbit pada waktu itu, Republik Indonesia Jaya.

Dia diangkat menjadi walikota Padang pada 15 Agustus 1946, menggantikan Mr Abubakar Jaar. Padahal waktu itu, kondisi kota Padang sangat tidak kondusif. Belanda yang datang kembali ke Indonesia kembali mencoba menguasai Indonesia dan Belanda saat itu telah menguasai sejumlah daerah penting di Indonesia.

Beliau memiliki keteguhan hati yang kuat dan tidak mau diintervensi belanda. Selama menjabat menjadi walikota beliau terus berusaha memperjuangkan rakyat, memegang teguh prinsip dan bertekad menegakkan pemerintahan yang baik meski dalam keadaan

sesulit apa pun juga.

kesetiannya pada perjuangan rakyat dan Keteguhan hatinya dalam mempertahankan Kota Padang membuat Aziz Chan menjadi musuh nomor satu bagi Belanda dan harus dihabisi. Akhirnya, Belanda pun mengatur siasat untuk mengakhiri hidup sang walikota.

Padda 19 Juli 1947, Bagindo Aziz Chan meninggal dunia akibat siasat licik dari Belanda. Beliau diserang tentara Belanda.

Aziz Chan meninggal pada usia 36 tahun dan berdasarkan hasil visum menyatakan meninggalnya tokoh pergerakan ini karena serangan benda tumpul dan terdapat 3 bekas tembakan di bagian wajah.

Sang pahlawan pun dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Bahagia Bukittinggi.

Untuk mengenang jasa-jasa perjuangan beliau, pemerintah kota Padang biasanya mengadakan napak tilas perjuangan tokoh perjuangan yang namanya diabadikan menjadi nama gedung dan jalan besar di kota Padang tersebut, disarikan dari berbagai sumber.

Sumber