Beginilah Cara Soekarno Selamatkan Gadis Minang dari Tentara Jepang

Beginilah Cara Soekarno Selamatkan Gadis Minang dari Tentara Jepang

Kabarantau.com – Presiden Pertama Indonesia, pernah bermukim lama di Padang, Sumatera Barat. Ia pernah tinggal hampir selama lima bulan dalam masa-masa pergerakan.

Selama lima bulan di Padang, Soekarno menggoreskan banyak jejak. Mulai dari ikrar bekerja sama dengan Jepang, Jugun Ianfu atau budak profesional untuk balatentara Jepang, hingga menabur bibit kemerdekaan Indonesia.

Sejarawan Universitas Negeri Padang (UNP) Mestika Zed mengatakan, Belanda buru-buru membawa Soekarno ke Padang, dengan maksud tidak jatuh ke tangan Jepang.

"Belanda khawatir, jika nantinya Soekarno dimanfaatkan Jepang untuk tujuan propaganda anti-Belanda," ujar Mestika.

Menurut Mestika, kegagalan Belanda membawa Soekarno ke Australia, menjadi penyebab Soekarno terdampar di Padang hingga lima bulan berikutnya.

Di Padang, nama besar Soekarno cukup dikenal luas. Kendati tanah Minangkabau melahirkan lakon-lakon dalam drama pergerakan menuju Indonesia merdeka, lakon Soekarno mendapat tempat di hati masyarakat.

Dalam buku 'Sejarah Perjuangan Kemerdekaan 1945-1949 di Kota Padang dan Sekitar' yang ditulis oleh Mestika Zed, Emizal Amri dan Edmihardi, sesampainya di Padang, Soekarno bersama Inggit, menginap di rumah Egon Hakim. Kemudian mereka pindah ke rumah kawan lama orang Manado, Waworuntu.

Padang menjadi persawahan terpenting bagi Soekarno menabur benih-benih kemerdekaan yang ia citakan sedari dulu. Di Padang, bukan saja awal ia membuat keputusan pribadi berkooperatif dengan Jepang, melainkan juga menegeskan ke-Indonesia-an hingga mendapat ide sila Ketuhanan untuk konsep negara.

Baru saja mendarat di Padang, secara empiris Soekarno melihat kedatangan Jepang begitu dielu-elukan oleh rakyat.

Dalam buku yang ditulis Mestika Zed dan kawan-kawan diatas, diterangkan, di jalanan rakyat meneriakan Merdeka, Banzaai, Hidup Jepang. Soekarno merasakan euforia rakyat menyambut Jepang, yang dianggap sebagai Saudara Tua, yang akan membebaskan Saudara Muda.

Di Ranah Minang, Soekarno juga mengelurkan solusi kebuasan tentara Jepang terhadap perempuan. Ia menggagas pelacur profesional untuk mencegah gadis-gadis diperkosa secara liar oleh tentara Jepang.

"Perempuan yang akan mereka rusak adalah perempuan-perempuan bangsaku. Termasuk suku Minangkabau yang terkenal taat beragama," ujar Soekarno kepada Cindy Adams yang tertulis dalam buku 'Bung Karno, Penyambung Lidah Bangsa Indonesia'.

Untuk gagasan yang kemudian dikenal dengan jugun ianfu tersebut, Soekarno berdiskusi dengan tokoh adat dan agama setempat.

"Semata-mata sebagai tindakan darurat, demi menjaga para gadis kita, aku bermaksud memanfaatkan para pelacur di daerah ini. Dengan cara ini, orang-orang asing dapat memuaskan keinginannya dan sebaiknya para gadis tidak diganggu," kata Soekarno.

Setelah disepakati, Soekarno mengumpulkan sekitar 120 pelacur dan menawari mereka pekerjaan di lokalisasi tentara Jepang.

Mengenai sikap Soekarno yang berkalaborasi dengan Jepang juga bisa disimpulkan dalam pidato ia di muka umum. Dalam buku tersebut, dikatakan, isi pidato Soekarno sangat kentara menjelaskan sikap politiknya yang lebih memilih menjadi mitra Jepang.

Selama lima bulan di tanah Minang, Soekarno juga sering bepergian ke pedalaman Minangkabau. Ia menyambangi Padang Panjang, Bukittinggi, dan Payakumbuh. Saat perjalanan ke luar kota, ia sering ditemani Sutan Usman Kasim.

Selain menyokong Jepang, Soekarno juga mulai menampakan sikap untuk sebagai aktivis yang mencitakan Indonesia merdeka. Di Padang, ia pernah mendatangi kantor anggota Sendenbu (Departemen Propaganda) Jepang, Kapten Sakaguci, meminta untuk membatalkan perintah penurunan bendera merah-putih yang diprogramkan Jepang.

Kendati Sakaguci menolak, Soekarno semakin dipandang Jepang. Ia semakin dianggap sebagai perwakilan rakyat. Soekarno juga semakin hadir di tengah tokoh pergerakan lainnya di Sumatera Barat. Soekarno lantas menceritakan upayanya tersebut dalam suatu pertemuan dengan para tokoh tersebut.

Tiga hari berselang, justru Sakaguci menemuinya, menyampaikan pesan Komando Balatentara Dai Nippon Sumatera yang berkedudukan di Bukittinggi. Mereka menerima.

Dalam perjalanan Soekarno ke Bukittinggi, kecintaan rakyat Sumatera Barat kepada Soekarno semakin menebal. Di setiap stasiun pemberhentian kereta api, ia disambut bak pahlawan.

Dalam dialog yang berlangsung dua jam itu, Mestika mengatakan, Fujiyama menyampaikan kepada Soekarno agar bersedia bekerjasama dengan Jepang.

"Di bawah tekanan psikologis yang berat, Soekarno terpaksa menerima tawaran Jepang itu. Suatu sikap yang dipegangnya hingga kembali ke Jakarta via kapal Jepang dari Teluk Bayur ke Tanjung Priok," ujarnya.

Pulang ke Jakarta, ia membawa segerobak oleh-oleh. Selain 'kerjasama dengan Jepang', ia juga mendapat oleh-oleh berupa gagasan Ketuhanan untuk sila pertama Pancasila dari Syekh Abdullah Abbas di Padang Japang, Kabupaten 50 Kota.

9 Juli 1942, Soekarno berlabuh di Tanjung Priok. Disana, Hatta dan beberapa tokoh lainnya, sudah menunggu kedatangannya.

Sumber