Hukum Harta Pusaka Tinggi dan Tanah Ulayat di Minangkabau

Hukum Harta Pusaka Tinggi dan Tanah Ulayat di Minangkabau

Kabarantau.com - Banyak tanah ulayat yang di sertifikatkan, kenapa bisa, apakah Pertanahan melanggar Hukum? Salah satu keistimewaan dan yangmenjadi kekuatan Adat Minang Kabau adalah karena adanya Harta Pusaka Tinggi dandiakuinya Tanah Ulayat sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari kesatuansuku atau kaum dalam kekerabatan Materinial yang mengikat satu sama lainnya.
Bagi masyarakat Minang Kabauharta pusaka tinggi atau tanah ulayat merupakan marwah dalam suku atau kaumnya,ada pusaka tinggi dan tanah ulayat berarti ada suku atau kaum, karena cirricirri adanya suatu suku atau kaum dalam kekerabatan Metrinial adalah denganadanya :

  1. Rumah Gadang (Rumah gadang tempat berhimpunnya kaum atau saudarasesuku)
  2. Sasok Jarami (Sawah atau ladang tempat menhidupi keluarga ataukaum)
  3. Pandam pakuburan (Tanah pekuburan kaum atau suku)
  4. Lantak supadan (batas-batas kebun dan hutan ulayat untukpengembangan usaha).


Pengertain Harta Pusaka Tinggiatau tanah ulayat

Harat pusaka tinggi dan tanahulayat bukanlah harta yang diperoleh melalui usaha, kerja dan pencarian seorangayah yang dapat dibagikan dan diwariskan kepada anak dan istrinya.

Harta pusaka tinggi adalh hartayang diperoleh dari hasil kerjasama, gatong royong antara mamak dan kemenakandalam suatu suku atau kaum pada masa lalu yang diperuntukkan manfaatnya bagisaudara dan kemenakan perempuan menurut suku atau kaum dari garis ibu sesuaikonsep meterinial, sedangkan tanah ulayat adalah didapat dari pembagian wilayahkekuasaan antara penghulu dalam suatu nagari menurut sesuai jumlah masing-masingsuku yang ada dalam nagari itu pada zaman dulunya.

Status kepemilikan

Harta pusaka tinggi dan tanahulayat bukanlah milik pribadi yang dapat diperjual belikan atau dipindahtangankan oleh seseorang kepada orang lain, harta pusaka tinggi adalah miliksuku atau kaum yang terdiri dari kesatuan kekrabatan keluarga besar dalam suatusuku atau kaum yang diatur pemanfaatannya oleh ninik mamak penghulu suku untuksaudara perempuan dan kemenakan, inilah yang disebut dalam aturan adat bahwa“Mamak maulayat diharato pusako” (Mamak mengulayat pada harta pusaka).

Pengertian mamak mengulayat padaharta pusaka adalah bahwa seorang mamak penghulu suku yang ditunjuk ataudipilih oleh saudara dan kemenakan dalam suku atau kaum di Minang Kabaumempunyai tanggung jawab yang besar kepada saudara dan kemenakan dalam sukuatau kaum yang dipimpinnya, diantaranya adalah menjaga memelihara dan menagturpemanfaatan harta pusaka tinggi dan tanah ulayat untuk saudara dan kemenakandari suku yang dipimpinnya, dengan palsapah adat

    “Nan kamaagak maagiahkan, nankamanimbang samo barek, nan kamaukua samo panjang, nan kamambagi samo banyak,sasuai mungkin jo patuik sukua mangko manjadi”

Larangan menjual mengadai hartapusaka tinggi

Harta pusaka tinggi atau tanahulayat di Minang Kabau tidaklah boleh dipejual belikan ataupun digadaikankepada orang lain, karena kalau harta pusaka tinggi digadaikan atau apalagidijual kepada orang lain maka suatu suku atau kaum akan kehilangan ulayat danhartanya sehingga tidak adalagi jaminan hidup bagi saudara dan kemenakanperempuan dimasa-masa yang akan datang, dan akan terjadi penurunan nilai-nilaikekerabatang materinial itu sendiri, inilah yang disebut dalam pepatah adat“harato pusako tinggi dijua indak dimakan bali digadai indak dimakan sando” (hartapusaka tinggi dijual tidak dimakan beli digadai tidak dimakan agun)

Tujuan harta pusaka tinggidipelihara adalah untuk melindungi kaum yang lemah yaitu kaum perempuan dan inisudah teradat dari dahulu makanya adat Minang mengambil pesukuan dari garis ibu,sedangkan harta pusaka rendah yaitu pencarian pribadi Sang ayah dan ibu tetapbisa diwariskan kepada anak istrinya dan tidak boleh pula dibagikan kepadasaudara kemenakan dalam pesukuan.

Pedoman kerja seorang mamakpenghulu adat

Seorang mamak penghulu suku harusbijak dalam menjalankan tugasnya sebagai kepala kaum dalam sukunya maupunsebagai kepala keluarga dalam rumah tangganya dia harus bisa membedakan manayang hak saudara dan kemenakanya dan mana yang hak anak istrinya, hal ini telahdiatur dalam aturan adat seperti pepatah adat yang mengatakan : “Kaluak pakukacang balimbiang tampuruang lenggang lenggokkan dibaok urang ka saruaso, anakdipangku kamanakan dibimbiang urang kampuang dipatenggangkan tenggang nagarijan binaso”, (keluk paku kacang belimbing tempurung lenggang lenggokkan dibawaorang ke saruasa, anak dipangku kemenakan dibimbing orang kampongdipertenggangkan tenggang negeri jangan binasa).

Maksut dari pepatah ini adalahpedoman bagi seorang mamak dalam suku atau kaum dalam menjalankan fungsinyabaik sebagai mamak bagi kmenakan maupun sebagai kepala keluarga bagi anak danistrinya, serta sikap sebagai masyarakat di dalam nagari atau kampungnya. Anakdipangguk dengan hasil usaha atau pencarian pribadi, kemenakan dibimbing denganharta pusaka tinggi atau ulayat, orang kampong dipertenggangkan dengan salangtenggang, gotong royong, kerja sama, dan tenggang nagari jangan binasa dengansikap kurenah, perangai kita jangan membuat malu nagarai atau kampung kitasendiri.

Sangatlah dilarang dalam adatseorang mamak atau pengulu adat membawa harta pusaka tinggi atau ualayatsukunya untuk anak istrinya apa lagi yang menggadai bahkan menjual harta pusakatinggi atau ualayat adat untuk kepentingan anak dan istrinya, dan begitu jugasebaliknya sangatlah tidak pantas harta pencarian kita sendiri diberikan kepadasaudara dan kemenakan secara berlebihan sementara anak dan istri masihberkekurangan.

Harta pusaka tinggi yang beleh dimanfaatkan mamak pemangku adat.

Seorang mamak penghulu adat dapatmemanfaatkan harta pusaka tinggi atau ualayat untuk keperluan hidupnya dankeluarganya apa bial telah disepakati melalui anak kemenakan dengan istilahsawah atau ladang abuan yang memang diperuntukan bagi mamak yang menjabat gelarpengulu adat atau keperluan yang sangat mendesak atau sangat urgent lainnyaseperti sakit keras dll.

Kelonggoran Menggadai hartapusaka tinggi dalam adat.

Tidak dibenarkanya menggadai danmenjual harta pusaka tinggi atau tanah ulayat di Minang Kabau bukanlah hargamati yang tidak ada toleransi sama sekali kecuali menjual memang harga matiyang tidak dapat ditawar-tawar, sedangkan menggadai masih ada kelonggaranyaitunya apa bila terjadi 4 perkara :

  1.     Maik tabujua ateh rumah (mayat terbujur diatas rumah ), Apabilaada dari keluarga yang meninggal dunia namun tidak ada family atau orangkampung yang akan membantu untuk menyelenggarakan jenazahnya sedangkanmenyelenggarakan jenazah itu wajib menurut agama, maka boleh menggadaikan hartapusaka untuk mengupahkan orang menyelenggarakan jenazah tsb.
  2.     Gadih atau rando indak balaki (gadis atau janda tak punya suami),Kalau ada saudara atau family perempuan baik dia gadis atau janda yang tidakpunya suami dan tidak ada orang yang mau mengawini dia sedangkan usianya sudahlanjut maka boleh menggadaikan harta pusaka tinggi untuk membayar laki-lakilain agar mau menikahi dia, karena aib di Minang Kabau kalau ada perempuan yangtidak punya suami apabila sudah sampai waktunya.
  3.     Rumah gadang katirisan (Rumah Gadang rusak berat), Apa bila rumahgadang rusak berat seperti bocor, dinding lapuk tangga runtuh dll dan tidak adaorang laki-laki yang kuat untuk memperbaikinya maka supaya rumah gadang jangansampai runtuh boleh menggadaikan harta pusaka tinggi atau ulayat untukmemperbaikinya, karena rumah gadang di Minang Kabau adalah merupakan lambangkesatuan suku yang kuat dan kokoh, mencerminkan kehidupan yang harmonis penuhkekeluargaan dalam suatu kaum yang diikat dengan pola persaudaraan yangmaterinial
  4.     Mambangkik batang tarandam, (Membangkit batang terendam), Apabila ada gelar penghulu adat dalam suku yang tidak terpasang sedangkan anakkemenakan semakin kembang memerlukan bimbingan seorang penghulu adat sementarapengulu adat atau datuknya sudah lama terbenam (tidak dinobatkan) sementaraanak kemenakannya tidak mempunyai biaya untuk menyelenggarakan upacarapenobatan gelar penghulu itu maka boleh mengadai secukupnya untuk pelaksanaanacra tersebut.

Diluar yang 4 macam tersebut padahakekatnya tidak diperkenankan bagi masyarakat Minang untuk menggadaikan hartapusaka tinggi atau ulayat, kecuali yang sifatnya urgent sekali seperti

  •  Ada kemenakan yang sekolahnya sedang tergantung atak cerdas nilaitinggi, tapi ibu miskin ayah meninggal saudarapun miskin pula tak ada tempatbertenggang, maka boleh mengadaikan harta pusaka tinggi untuk keperluansekolahnya dan kalau sudah bekerja nanti dapat ditebus kembali.
  • Ada keluarga dan family yang sakit keras harus dioperasi dll,uang tidak ada untuk biaya familipun hidupnya susah juga maka bolehmenggadaikan harta pusaka seperlunya dll yang sifatnya sangat urgent.

Pada hakikatnya menggadaikanharta pusaka tinggi atau ulayat di Minang Kabau sangat dilarang, apa lagimenjualnya malah sangat tidak boleh, karena kalau dibolehkan mengadai ataumenjual maka akan hilanglah keistimewaan Minang Kabau, Ladang habih sawahtagadai, parak tandeh hutan tajua, dima katampek iduik lai kamanakan batambahbanyak juo, akianyo manumpang ditanah urang manjawek upah patang pagi, pilolahnasib kabarubah akianyo rantau dipajauah kampuang dihuni urang lain, haratobapindah tangan Minang kabau katingga namo.

Sumber