Asal-Usul Nama Daerah di Sumatera Barat Aie Tigo Raso

Asal-Usul Nama Daerah di Sumatera Barat Aie Tigo Raso

Kabarantau. com - "Air Tigo Raso' yang terletak di Jorong Muko-muko Nagari Koto Malintang Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam, Sumatera Barat merupakan fenomenal air terunik di dunia. Disebut, 'Air Tiga Rasa' dikarenakan memiliki tiga macam rasa yang terkandung di dalamnya, yakni manis, asam, dan pahit.

Dibalik keberadaan 'Air Tiga Rasa' tersebut, tidak sedikit orang yang ingin tahu akan asal-usul terjadinya air yang disebut fenomenal itu.

Tandoriah (68) pemilik tanah air tigo raso, saat ditemui dirumahnya, Rabu (8/5) menceritakan, dahulunya pada tahun 70-an di jorong muko-muko terdapat warga Nias yang merantau kesana, termasuk dilingkungan tempat tinggalnya.

Suatu hari, salah seorang warga Nias mengatakan kepada Tandoriah sang pemilik tanah, bahwa terdapat setumpuk gelembungan air yang bersumber dari tanah terdapat dibelakang rumahnya dengan mengeluarkan asap dengan suhu panas.

'Buk, kok air ini terlihat aneh, sepanjang yang saya ketahui belum ada segumpalan air dengan suhu panas seperti ini, 'terang seorang warga Nias. Tandoriah menjawab, ' Iya, mungkin itu karena suhu cuaca makanya begitu, 'ungkapnya dengan nada tenang, seakan tidak percaya.

Dikatakan Tandoriah, malam harinya dia mendapatkan mimpi ditemui oleh orang berkuda putih dan seekor harimau putih yang katanya didalam mimpi itu, bahwa mereka adalah penjaga air fenomenal tersebut.

'Jangan sekali-sekali untuk mengotori bahkan merusak air ini, jagalah selalu, karena, suatu saat air ini akan memberikan barokah terhadap umat manusia, 'ungkap Tandoriah dengan semangatnya mengejakan perkataan orang berkuda putih tersebut.

Namun, selang beberapa hari kemudian isu tersebut merebak hingga kepelosok Maninjau dan Lubuk Basung. Suatu hari, ada seorang warga dari Sigiran mendapat penyakit kudis yang sulit untuk disembuhkan, dengan merebaknya isu tersebut, dia membawa ke rumah Tandoriah untuk mengusapkan air tersebut ke penyakit yang dideritanya.

Berselang beberapa hari kemudian, penyakit yang dideritanya sembuh total dan tidak kembali lagi, begitupun warga Medan menderita kebutaan dengan kuasa-Nya dapat melihat lagi.

Tandoriah semakin bertannya-tanya, kenapa tiap orang berobat sembuh dan ironisnya kesembuhan orang tersebut berkaitan dengan mimpi yang dialaminya.

Suatu ketika, dia ingin mencoba merasakan rasa dari dikandung air tersebut. Dengan rasa keberanian, dia mencobanya dengan meminumnya beberapa kali cekukan, ternyata tandoriah merasakan air yang selama ini dapat menyembuhkan penyakit orang, memiliki tiga rasa, yakni manis, asin, dan pahit. Dengan begitu, dia dan bersama masyarakat memberi nama 'Air Tiga Rasa'.

Dengan begitu, membuat beberapa orang Nias dan warga Jepang yang berada dilingkungan itu, memberitahukan kepada Pemerintah setempat, untuk merawat dan memberikan sarana seperti pagar untuk menghindar terjadinya pencemaran terhadap air tersebut.

Menurut ia, aktifitasnya acapkali dihabiskan untuk menemani pengunjung atau memberikan keterangan bagi pelancong atau peneliti.

Dengan usia bangunan pagar 'Air Tiga Rasa' yang sudah puluhan tahun dibangun oleh pemerintah, ia mengharapkan pemerintah untuk memperbaharui bangunan tersebut, selain untuk menjaga marwah juga menjaga keindahan akan air tersebut.

Sumber : Bagian Humas Setda Agam

Sumber